Normalisasi Sungai Kijang Dikebut, Pemkab Rohul Fokus Kurangi Risiko Banjir di Permukiman

Dinas PUPR Rohul mengeruk pasir, tanah, dan batu di Sungai Kijang untuk memperlancar aliran air serta mengurangi risiko banjir di Cipang Kiri.

Sebuah alat berat sedang bekerja melakukan normalisasi Sungai Kijang di wilayah Cipang Kiri, Rokan Hulu. (Sumber: Dinas PUPR Rohul)

RINGKASAN BERITA:

  • Normalisasi Sungai Kijang dilakukan setelah kawasan Cipang Kiri dilanda banjir dua kali pada akhir Maret 2026.
  • Pengerukan difokuskan pada area dekat permukiman dan tikungan sungai yang berpotensi menghambat aliran air.
  • PUPR Rohul menyebut normalisasi hanya salah satu upaya mitigasi karena penanganan banjir juga perlu memperhatikan kondisi wilayah hulu.

RIAUCERDAS, PASIR PENGARAIAN – Penanganan banjir di kawasan Cipang Kiri, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), dilakukan melalui pembenahan aliran Sungai Kijang.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Rohul kini mengerjakan normalisasi untuk mengurangi risiko luapan air menuju permukiman warga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Rohul, Zulfikri, mengatakan pekerjaan tersebut sedang berlangsung dengan menggunakan alat berat milik pemerintah daerah.

“Sedang berjalan sekarang. Alat kita sedang bekerja untuk normalisasi sungai Kijang,” kata Zulfikri, Senin (6/4/2026).

Pekerjaan itu merupakan tindak lanjut instruksi Bupati Rohul Anton setelah meninjau Sungai Kijang beberapa waktu lalu. Saat itu, kawasan Cipang Kiri sempat terdampak banjir sehingga kepala daerah meminta dilakukan normalisasi sungai.

Menurut Zulfikri, pengerjaan telah dimulai sejak Rabu pekan sebelumnya. Material pasir dan batu yang menyebabkan pendangkalan diangkat agar kapasitas aliran sungai dapat lebih terjaga.

Kawasan Cipang Kiri sendiri mengalami banjir sebanyak dua kali pada akhir Maret lalu. Peristiwa tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama hingga debit air meningkat dan meluap ke permukiman penduduk.

Zulfikri menjelaskan, normalisasi tidak dimaksudkan untuk menghilangkan seluruh potensi banjir. Pekerjaan tersebut lebih diarahkan sebagai langkah mitigasi agar luapan air tidak mudah berdampak langsung terhadap rumah warga. “Ini lebih kepada mengurangi resiko banjir bila terjadi. Mitigasi,” tuturnya.

Sementara, Kepala Bidang Pengaraian PUPR Rohul, Wasino, menjelaskan pengerukan dilakukan dengan mengangkat pasir dan tanah yang mengendap di dasar sungai. Petugas juga menyingkirkan batu berukuran besar yang dinilai mengganggu kelancaran arus.

Namun, kedalaman pengerukan memiliki keterbatasan karena terdapat lapisan batu cadas di bagian bawah sungai.

“Soal berapa dalam kita keruk, sepertinya ngak bisa dalam. Soalnya dibawah itu banyak batu cadas,” katanya.

Wasino menyebut pekerjaan diprioritaskan pada bagian sungai yang berdekatan dengan permukiman serta sejumlah tikungan tajam. Penataan aliran di titik-titik tersebut diharapkan dapat mengurangi kemungkinan air meluber ke sisi sungai dan masuk ke kawasan tempat tinggal warga.

“Kita akan berupaya membuat aliran air lancar. Nggak nyebar ke pinggiran yang bisa masuk ke pemukiman,” ujarnya.

Ia menambahkan, normalisasi Sungai Kijang hanya menjadi salah satu bagian dari upaya pengurangan risiko banjir. Penanganan yang lebih menyeluruh juga perlu mempertimbangkan kondisi daerah hulu sungai. “Kalau pencegahan banjir, harus juga lihat kondisi di hulu,” tandasnya. (adv)

Share to: