Kata Pakar: Rambut Basah Saat Hujan Tak Otomatis Bikin Flu
Anggapan bahwa rambut basah akibat hujan bisa menyebabkan flu tidak sepenuhnya tepat. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Widya Khairunnisa, menjelaskan bahwa flu disebabkan oleh virus. Meski demikian, paparan suhu dingin berkepanjangan dan kualitas air hujan tetap perlu diperhatikan.

RINGKASAN BERITA:
- Rambut basah bukan penyebab langsung flu. Infeksi saluran pernapasan tersebut disebabkan oleh virus.
- Air hujan dapat membawa partikel pencemar. Debu, polutan, dan mikroorganisme berpotensi menempel pada rambut serta kulit kepala.
- Rambut perlu segera dibersihkan dan dikeringkan. Orang dengan asma, rhinitis, atau infeksi saluran pernapasan juga perlu lebih waspada terhadap udara dingin.
RIAUCERDAS – Anggapan bahwa rambut basah akibat kehujanan atau “keramas air hujan” dapat menyebabkan flu masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, menurut penjelasan medis, air hujan dan rambut basah bukan penyebab langsung infeksi tersebut.
Meski begitu, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan setelah tubuh terpapar hujan.Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, menjelaskan bahwa orang sehat pada dasarnya tidak perlu khawatir apabila rambutnya basah akibat hujan, asalkan menjaga kebersihan dan segera mengeringkannya.
“Secara medis, keramas saat hujan deras pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat, selama setelahnya tubuh dibilas dengan air bersih dan rambut dikeringkan segera,” terang dr Widya dikutip dari laman IPB University, Jumat (16/10/2026).
Ia menerangkan, flu atau common cold merupakan infeksi saluran pernapasan yang dipicu oleh virus. Dengan demikian, kehujanan tidak serta-merta membuat seseorang terserang penyakit tersebut.
Namun, kondisi dingin tetap dapat memengaruhi respons tubuh. Saat suhu menurun, pembuluh darah di kulit mengalami penyempitan atau vasokonstriksi sebagai mekanisme untuk mempertahankan panas.
Respons ini bisa menimbulkan sensasi menggigil dan rasa tidak nyaman.
“Udara dingin juga dapat memengaruhi mukosa (lapisan lendir) hidung dan saluran pernapasan, termasuk mekanisme pembersihan mukosiliar, yaitu sistem alami yang membersihkan lendir dan kuman, serta imunitas lokal di hidung,” urainya.
Selain suhu, kebersihan air hujan juga menjadi hal yang patut diperhatikan.
Ketika melewati atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, serta zat lainnya. Berbagai partikel tersebut berpotensi menempel pada rambut dan kulit kepala.
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” paparnya.
Untuk menjaga kebersihan rambut setelah kehujanan, ia menyarankan agar rambut dibilas menggunakan air bersih dan segera dikeringkan.
Jika terpapar hujan dalam waktu lama, khususnya di kawasan dengan tingkat debu dan polusi tinggi, penggunaan sampo lembut dapat membantu mengangkat partikel yang menempel.
Meski bukan pemicu langsung infeksi, suhu dingin dapat memengaruhi timbulnya gejala pada orang yang telah terpapar virus atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu.
“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” kata dia.
Karena itu, risiko setelah kehujanan tidak semata-mata berkaitan dengan rambut yang basah. Durasi paparan suhu dingin, kondisi air hujan, serta keadaan kesehatan setiap orang turut menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.
Bagi orang sehat, keramas saat hujan bukan sesuatu yang otomatis membahayakan, selama kebersihan tubuh dan rambut tetap dijaga. (*)
