Kemenag Luncurkan 5 Pelatihan Online, Ada Kelas AI hingga Manajemen BOS Pesantren
BMBPSDM Kementerian Agama bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren meluncurkan lima pelatihan daring khusus Hari Santri 2026 melalui platform MOOC Pintar. Program ini mencakup kecerdasan buatan (AI), pembuatan konten digital, pengelolaan data e-ijazah, penyelenggaraan ujian pendidikan kesetaraan, serta akuntabilitas dana BOS Pesantren.

RINGKASAN BERITA:
- Santri dan pengelola pesantren dari berbagai daerah dapat mengikuti pelatihan melalui MOOC Pintar tanpa harus datang ke lokasi tertentu.
- Program dirancang untuk memperkuat keterampilan digital, administrasi pendidikan, penyelenggaraan ujian, dan pengelolaan keuangan.
- Kemenag mengingatkan bahwa teknologi dapat membantu mencari informasi, tetapi pembelajaran agama, terutama hukum dan fikih, tetap memerlukan bimbingan guru.
RIAUCERDAS, JAKARTA – Kementerian Agama melalui Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren meluncurkan lima pelatihan daring untuk memperingati Hari Santri 2026.
Seluruh program dapat diakses melalui platform Massive Open Online Course (MOOC) Pintar.
Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan digital santri sekaligus meningkatkan kemampuan pengelola pesantren dalam bidang administrasi, penyelenggaraan pendidikan, dan tata kelola keuangan.
Penyelenggaraan secara daring memungkinkan santri dan pengelola pesantren dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti pelatihan tanpa harus datang ke tempat tertentu.
Lima pelatihan yang ditawarkan meliputi Santri Mahir Artificial Intelligence (AI), Santri Menjadi Content Creator, Manajemen Data E-Ijazah Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS), Sosialisasi Penyelenggaraan UAN PKPPS, serta Pengelolaan Akuntabilitas Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pesantren.
Rangkaian program tersebut menggabungkan penguatan kemampuan teknologi dengan peningkatan kapasitas kelembagaan pesantren.
Santri didorong memahami perkembangan teknologi digital, sementara pengelola pesantren memperoleh materi yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dan pertanggungjawaban bantuan operasional.
Kepala BMBPSDM Kemenag RI, Muhammad Ali Ramdhani, mengatakan penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan nilai-nilai keagamaan.
“Hari ini mandat yang diberikan negara kepada santri semakin berat karena pada satu dimensi harus memperkokoh fondasinya sebagai orang yang berkarakter memiliki keagamaan yang baik, tetapi pada dimensi lain harus mengaktualisasikan ilmunya pada masyarakat,” kata dia di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Pria yang akrab disapa Kaban Dhani itu menegaskan, santri tidak hanya dituntut memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga perlu mampu menerapkan ilmu yang dimiliki untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
AI Membantu Belajar, Guru Tetap Jadi RujukanDalam pelatihan literasi kecerdasan buatan, Kemenag juga mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak, khususnya ketika AI dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran agama.
Menurut Muhammad Ali Ramdhani, AI dapat mendukung pencarian informasi dan membantu memahami persoalan tertentu.
Namun, teknologi tersebut tidak dapat menggantikan peran kiai dan ustaz dalam membimbing santri, terutama saat mempelajari persoalan keagamaan yang sensitif.
“Oleh karenanya, saya berharap AI kita warnai. Dan hari ini saya ingin mengingatkan, AI bisa membantu pada ruang-ruang normatif, tetapi untuk belajar hal-hal yang sensitif seperti hukum, fikih, wajib hukumnya memiliki guru,” terangnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi perlu disertai pendampingan dan pemahaman yang tepat.
Santri dapat memanfaatkan AI sebagai sarana pendukung belajar, tetapi rujukan dan bimbingan guru tetap diperlukan dalam mendalami persoalan hukum serta fikih.
Melalui lima pelatihan khusus Hari Santri 2026 ini, Kemenag mendorong peningkatan kapasitas santri dan pengelola pesantren agar mampu menghadapi perkembangan teknologi sekaligus memperkuat tata kelola pendidikan.
Program daring juga membuka kesempatan bagi lebih banyak peserta dari berbagai daerah untuk mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan pesantren. (*)
