1.460 Peserta Ikuti Kemah Kerukunan dan Madrasah Siak 2026
Sebanyak 1.460 peserta mengikuti Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau 2026. Wabup Syamsurizal mengajak masyarakat memperkuat toleransi dan menjaga alam.

RINGKASAN BERITA:
- Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau 2026 diikuti 1.460 peserta, termasuk siswa madrasah dan tokoh agama.
- Wabup Syamsurizal menekankan pentingnya disiplin, kekompakan, tanggung jawab, dan toleransi dalam keberagaman.
- Kegiatan menggabungkan penguatan kerukunan antarumat beragama dengan kepedulian lingkungan melalui gerakan Ekoteologi Siak Hijau.
RIAUCERDAS, MEMPURA – Penguatan toleransi antarumat beragama dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi fokus Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau Tahun 2026 di Kabupaten Siak.
Kegiatan yang diikuti 1.460 peserta ini resmi dibuka Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, di Bumi Perkemahan Tengku Buwang Asmara, Kelurahan Sungai Mempura, Kecamatan Mempura, Jumat (23/10/2026).
Pembukaan kegiatan ditandai dengan pemasangan tanda peserta oleh Syamsurizal, didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Siak, Fuadi Ahmad, serta Sekretaris Daerah Siak, Mahadar.
Suasana semakin meriah saat parade defile peserta dilepas. Barisan yang tertata rapi, seragam, dan disiplin menarik perhatian para undangan serta pimpinan daerah yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut.
Agenda tahunan yang diinisiasi Kemenag Kabupaten Siak ini melibatkan pelajar madrasah, tokoh agama, tenaga pendidik, dan berbagai unsur penggerak kehidupan keagamaan di Kabupaten Siak.
Dari total 1.460 peserta, sebanyak 1.230 orang berasal dari kalangan siswa dan siswi madrasah. Mereka mewakili 26 Madrasah Ibtidaiyah (MI), 34 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 22 Madrasah Aliyah (MA) se-Kabupaten Siak.
Sementara itu, 230 peserta lainnya berasal dari barisan tokoh agama dan penggerak kemaslahatan.
Kelompok ini mencakup unsur Kemah Kerukunan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi keagamaan, kepala madrasah, penyuluh agama Islam, penghulu, guru MA, MTs, dan MI, serta utusan Kantor Urusan Agama (KUA) dari berbagai kecamatan.
Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan generasi muda, pendidik, dan tokoh agama dalam kegiatan yang menekankan kebersamaan serta penghormatan terhadap perbedaan.
Syamsurizal: Keberagaman Harus Menjadi KekuatanDalam sambutannya, Syamsurizal mengapresiasi penampilan parade defile peserta.
Ia menilai barisan yang rapi tidak hanya menggambarkan keterampilan baris-berbaris, tetapi juga mencerminkan nilai kedisiplinan dan kerja sama.
“Dalam defile yang kita laksanakan hari ini, saya ingin mengingatkan bahwa barisan yang rapi bukan sekadar menunjukkan keseragaman gerak. Lebih dari itu, ini mencerminkan kedisiplinan, kekompakan, kepemimpinan, dan tanggung jawab,” kata Syamsurizal.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk memperkuat sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat.
“Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita. Sebaliknya, jadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun daerah dan bangsa,” tuturnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tujuan Kemah Kerukunan untuk menumbuhkan sikap toleran, memperkuat persaudaraan, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Mengusung tema “Merawat Kerukunan, Menjaga Alam, Menguatkan Generasi untuk Indonesia yang Harmonis dan Berkelanjutan”, kegiatan ini memadukan penguatan kerukunan antarumat beragama dengan gerakan pelestarian lingkungan melalui Ekoteologi Siak Hijau.
Para peserta didorong memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Salah satu bentuk kegiatan nyata yang diusung dalam program ini adalah penanaman pohon.
Melalui pendekatan tersebut, nilai keagamaan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga alam.
Pemerintah Kabupaten Siak berharap semangat pelestarian lingkungan tidak berhenti ketika kegiatan perkemahan berakhir.
Kebiasaan menjaga kebersihan dan merawat alam diharapkan terus diterapkan di madrasah, rumah ibadah, pesantren, dan lingkungan masyarakat.
Dengan demikian, Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau 2026 diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk membangun kehidupan yang toleran, harmonis, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. (*)
