Umri Percepat Transformasi Pendidikan Tinggi Hadapi Era AI, Dekan Baru Didorong Perkuat Mutu Fakultas
Umri menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum dan kepemimpinan fakultas untuk menyiapkan lulusan adaptif menghadapi perubahan dunia kerja berbasis AI.

RINGKASAN BERITA:
- Umri menilai perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajaran dengan perkembangan kecerdasan buatan.
- Prof. Ku Ruhana Ku Mahamud menekankan pentingnya lulusan yang mampu bekerja berdampingan dengan AI.
- Penyerahan SK Dekan menjadi bagian dari penguatan kepemimpinan dan tata kelola fakultas di lingkungan Umri.
RIAUCERDAS, PEKANBARU – Perubahan dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) mempercepat pembaruan sistem pendidikan tinggi.
Kampus dituntut tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga membangun kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan International Guest Lecture bertajuk “From Classroom to AI-Driven Workforce: University Transformation to Produce Future-Ready Graduates” di Auditorium Kampus Utama UMRI, Jumat (30/10/2026).
Forum tersebut menghadirkan Prof. Emerita Dr. Ku Ruhana Ku Mahamud dari Universiti Muhammadiyah Malaysia sebagai narasumber.
Kegiatan dibuka Rektor Umri, Dr. H. Saidul Amin, M.A., dan diikuti jajaran pimpinan universitas, dosen, serta tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Saidul Amin menegaskan bahwa perubahan teknologi telah memengaruhi berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja.
Kondisi tersebut mengharuskan perguruan tinggi meninjau kembali perannya agar mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tantangan masa depan.
Menurutnya, pembenahan pendidikan tinggi perlu mencakup berbagai aspek, mulai dari kurikulum, pendekatan pembelajaran, kapasitas dosen, hingga sistem tata kelola dan budaya akademik.
Pemanfaatan AI juga harus berjalan seiring dengan penanaman nilai moral, etika, kemanusiaan, dan karakter.
Perguruan tinggi, tuturnya,harus mampu bergerak lebih cepat mengikuti perubahan zaman.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan menguasai teori, tetapi harus melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, berinovasi, serta memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijak.
“Namun, kecerdasan teknologi harus tetap diimbangi dengan kecerdasan moral, spiritual, dan kemanusiaan,” terang Rektor.
Saidul Amin juga menyoroti pentingnya kepemimpinan fakultas dalam mendukung perubahan tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Umri menyerahkan Surat Keputusan (SK) Rektor mengenai penetapan dekan di lingkungan universitas.Ia menyebut penetapan para dekan bukan sekadar urusan jabatan, melainkan amanah untuk meningkatkan kinerja dan kualitas masing-masing fakultas.
Para pimpinan fakultas diharapkan memiliki visi ke depan, memperluas kerja sama, meningkatkan mutu akademik, memperkuat akreditasi program studi, serta mendorong produktivitas dosen.
“Penyerahan SK Dekan ini bukan sekadar pergantian atau penetapan jabatan, tetapi merupakan amanah dan tanggung jawab untuk membawa fakultas semakin maju,” kata dia.
Para dekan harus mampu menjadi pemimpin yang visioner, membangun kolaborasi, meningkatkan mutu akademik, memperkuat akreditasi program studi, serta mendorong inovasi dan produktivitas dosen.
“Kita ingin seluruh fakultas bergerak dalam satu visi untuk membawa UMRI menjadi perguruan tinggi yang unggul, berkemajuan, dan berdampak,” tambahnya.
Rektor turut mengharapkan para dekan membangun koordinasi dengan unsur pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan mitra strategis.
Sinergi tersebut dinilai penting agar setiap fakultas dapat meningkatkan capaian sekaligus memberikan kontribusi bagi perkembangan institusi.
Dari sisi kebutuhan dunia kerja, Prof. Ku Ruhana Ku Mahamud menjelaskan bahwa kemampuan AI yang semakin berkembang telah mengubah tuntutan terhadap lulusan perguruan tinggi.
Teknologi tersebut kini dapat membantu berbagai pekerjaan, seperti menyusun tulisan, mengolah data, menyelesaikan persoalan kompleks, hingga mendukung proses pengambilan keputusan profesional.
Situasi itu, menurutnya, menjadi alasan bagi institusi pendidikan untuk mengevaluasi kurikulum dan model pembelajaran.
Perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa memiliki kemampuan yang tidak hanya relevan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara kritis.
“Fokus pendidikan harus bergeser dari sekadar penyampaian pengetahuan menjadi pengembangan lulusan yang mampu menerapkan, mempertanyakan, dan bekerja berdampingan dengan AI,” ujarnya.
Prof. Ku Ruhana menambahkan, daya saing lulusan pada masa mendatang akan ditentukan oleh kemampuan menggabungkan kecerdasan manusia dan teknologi.
Karena itu, proses pendidikan perlu dirancang lebih inovatif serta berorientasi pada kebutuhan pekerjaan yang terus berubah.
Melalui kuliah tamu internasional tersebut, Umri berupaya memperluas perspektif global sekaligus memperkuat kesiapan institusi menghadapi perkembangan teknologi.
Penguatan kepemimpinan fakultas dan pembaruan proses pembelajaran diharapkan berjalan beriringan untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan masa depan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)
