Riau Masih Butuh 379 Tenaga Kesehatan, Stikes PMC Kini Menjadi Universitas

Peluncuran Universitas Pekanbaru Medical Center (PMC) berlangsung ketika Riau masih menghadapi kebutuhan 379 tenaga kesehatan untuk memenuhi standar SDM di Puskesmas. Pemprov Riau berharap transformasi STIKes menjadi universitas dapat memperkuat penyediaan SDM kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi memberi kata sambutan saat saat menghadiri peluncuran Universitas Pekanbaru Medical Center (PMC) di Pekanbaru, Selasa (29/9/2026). (Sumber: Media Center Riau)
  • Riau masih membutuhkan 379 tenaga kesehatan dari berbagai kualifikasi untuk memenuhi standar SDM kesehatan.
  • Universitas PMC fokus pada bidang kesehatan, yakni keperawatan, profesi Ners, kebidanan, dan gizi.
  • Lulusan tidak hanya dituntut kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

RIAUCERDAS, PEKANBARU – Kebutuhan tenaga kesehatan di Provinsi Riau masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapat perhatian. Dari 239 Puskesmas di daerah tersebut, baru 48 yang memenuhi kelengkapan 12 jenis sumber daya manusia (SDM) kesehatan sesuai standar, sementara 191 lainnya masih belum terpenuhi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Riau saat menghadiri peluncuran Universitas Pekanbaru Medical Center (PMC) di Pekanbaru, Selasa (29/9/2026). Kampus yang sebelumnya berbentuk Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) itu resmi bertransformasi menjadi universitas.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi mengatakan perubahan status perguruan tinggi tersebut semestinya tidak berhenti pada perubahan administratif. Universitas PMC dinilai memiliki ruang lebih luas untuk berkontribusi terhadap kebutuhan pembangunan daerah, terutama dalam penyediaan SDM kesehatan.

“Bagi Pemerintah Provinsi Riau, transformasi membawa ruang pengembangan yang lebih luas, sekaligus tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi terhadap kebutuhan daerah,” terang Syahrial Abdi.

Menurut Syahrial, kebutuhan pembangunan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas. Komposisi tenaga kesehatan, kompetensi, dan kemampuan memberikan pelayanan sesuai standar juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

“Kalau kita melihat kondisi Riau hari ini, tantangan pembangunan kesehatan bukan hanya tentang membangun fasilitas. Yang tidak kalah penting adalah memastikan sumber daya manusia kesehatan tersedia dengan komposisi yang tepat, memiliki kompetensi yang baik, dan mampu memberikan pelayanan sesuai standar,” katanya.

Ia menyebut pemerintah daerah masih membutuhkan tambahan 379 tenaga kesehatan dari berbagai kualifikasi untuk memenuhi standar tersebut.

“Secara keseluruhan masih terdapat kebutuhan pemenuhan 379 SDM kesehatan dari berbagai jenis tenaga untuk memenuhi standar tersebut. Angka ini memberikan pesan yang jelas, daerah tidak hanya membutuhkan lulusan, daerah membutuhkan lulusan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pelayanan,” ungkapnya.

Bidang keilmuan yang menjadi fokus Universitas PMC meliputi keperawatan, profesi Ners, kebidanan, dan gizi. Bidang tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar pelayanan kesehatan masyarakat di Riau.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Riau berharap keberadaan Universitas PMC dapat menghasilkan lulusan profesional dan berintegritas yang mampu mengisi kebutuhan SDM kesehatan. Kehadiran kampus tersebut juga diharapkan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara lebih merata di wilayah Riau.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII Nopriadi mengapresiasi perjuangan pendiri yayasan dan civitas akademika hingga perguruan tinggi tersebut memperoleh status universitas.

Menurutnya, perubahan tersebut merupakan hasil kerja berkelanjutan dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi di Riau dan Kepulauan Riau.

“Transformasi ini adalah buah dari perjuangan panjang, dedikasi, serta komitmen dari Bapak Irsyad Suheimi beserta seluruh tim yang tak kenal lelah berjuang demi memajukan dunia pendidikan tinggi di Bumi Lancang Kuning,” tutur Nopriadi.

Nopriadi juga memaparkan perkembangan mutu pendidikan tinggi di Wilayah XVII. Jumlah Guru Besar tercatat meningkat 48 persen, sedangkan Lektor Kepala meningkat hingga 128 persen. Pada sisi akreditasi, institusi berstatus Unggul meningkat 300 persen dan program studi berakreditasi Unggul meningkat 521 persen.

“Kami berharap Universitas PMC dapat ikut mengambil peran aktif menjadi salah satu pilar utama penopang mutu pendidikan tinggi tersebut,” ungkap dia.

Dalam arahannya, Nopriadi menyampaikan sejumlah pesan kepada Universitas PMC. Penguatan fondasi keilmuan perlu berjalan bersama dengan tata kelola berkualitas, peningkatan kualifikasi dosen, penguatan riset, serta inovasi kurikulum berbasis teknologi digital.

Perguruan tinggi juga diharapkan memperkuat pengabdian kepada masyarakat serta membentuk lulusan yang memiliki karakter, etika, dan empati.

“Dunia kesehatan dan pendidikan sangat melekat dengan nilai kemanusiaan, kami berharap Universitas PMC mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas dan terampil secara teknis, tetapi juga memiliki empati, etika, dan kepedulian sosial yang tinggi,” terang Nopriadi.

Selain itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, dan rumah sakit perlu diperkuat untuk mendukung pengembangan pendidikan dan kesehatan. LLDIKTI Wilayah XVII menyatakan kesiapan mendampingi Universitas PMC agar dapat berkembang menjadi kampus yang berdaya saing tinggi. (*)

Share to: