UMRI Integrasikan Perkuliahan AIK, Dosen Didorong Seragamkan Metode dan Asesmen
Rektor UMRI, Dr Saidul Amin menilai dosen pengampu AIK memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Ia mendorong dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun pengalaman pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan praktik kehidupan mahasiswa.

RINGKASAN BERITA:
- Perkuliahan AIK diintegrasikan agar mahasiswa dari berbagai program studi memperoleh standar pembelajaran yang sama.
- Metode penilaian dan asesmen diseragamkan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih terarah dan terukur.
- Dosen AIK didorong menghubungkan ilmu dan amal, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan konsep.
RIAUCERDAS, PEKANBARU – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) memperkuat pelaksanaan perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) melalui kelas terintegrasi.
Langkah ini diarahkan untuk memastikan mahasiswa dari berbagai program studi memperoleh standar pembelajaran, penilaian, dan asesmen AIK yang sama.
Penguatan tersebut dibahas dalam Sosialisasi dan Pembekalan Dosen Pengampu AIK yang digelar Lembaga Al Islam dan Kemuhammadiyahan (LAIK) UMRI di Ruang Pascasarjana Kampus Utama UMRI, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan dihadiri Rektor UMRI Dr. H. Saidul Amin, M.A., Wakil Rektor I Prof. Dr. Jufrizal Syahri, M.Si., Ketua LAIK UMRI Fauzi Rahman, M.Psi., para dekan dan wakil dekan, serta dosen pengampu AIK di lingkungan UMRI.
Wakil Rektor I UMRI Prof. Dr. Jufrizal Syahri, M.Si., menjelaskan bahwa mahasiswa AIK berasal dari berbagai program studi.
Karena itu, LAIK melakukan integrasi dalam pelaksanaan perkuliahan untuk menjaga keseragaman standar pembelajaran.
“Mata kuliah AIK berada di bawah LAIK dan dilaksanakan dengan kelas yang terintegrasi. Tujuannya agar mahasiswa mendapatkan perlakuan yang sama serta memperoleh ilmu yang sesuai dengan standar pembelajaran AIK dari dosen pengampu,” terang Jufrizal.
Menurut Jufrizal, kelas terintegrasi juga berkaitan dengan sistem penilaian dan asesmen.
Kesamaan standar kelas membutuhkan sistem penilaian dan asesmen yang seragam agar proses pembelajaran berjalan lebih terarah, terukur, serta sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Selain aspek teknis perkuliahan, Rektor UMRI Dr. H. Saidul Amin, M.A., mengingatkan agar pembelajaran AIK tidak berhenti pada penguasaan konsep.
Menurutnya, nilai yang diberikan dalam proses pendidikan harus dapat membentuk kesadaran dan karakter mahasiswa.
“Di UMRI kita harus bisa memberikan pemahaman yang baik, sebab yang kita harapkan adalah amal yang ilmiah dan ilmu yang amaliah. Ilmu yang disampaikan menjadi amal, sementara amal yang dilakukan juga memiliki basis keilmuan,” ujar Rektor.
Saidul Amin menilai dosen pengampu AIK memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Ia mendorong dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun pengalaman pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan praktik kehidupan mahasiswa.
“Anda-lah para dosen AIK yang menjadi jiwa universitas. Oleh karena itu, dosen harus membekali diri dan menjadikan metode pembelajaran lebih menarik. Karena dosen AIK bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mentransfer nilai dan pengalaman,” tuturnya.
Ia juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap pola dan metode penyampaian materi AIK.
Hal itu berkaitan dengan upaya mendorong mahasiswa agar nilai-nilai yang dipelajari dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelaksanaan kewajiban ibadah.
“Apakah materi AIK ini hanya sekadar konsep pemikiran yang belum menciptakan mahasiswa yang mempraktikkannya? Kalau memang ini sumber masalahnya, tentu perlu ada penataan ulang dalam penyampaian materi ini,” ucap Saidul.
Dia menambahkan, perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab membangun lingkungan akademik yang mendukung tumbuhnya kesadaran keagamaan mahasiswa.
Karena itu, penguatan AIK tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga ekosistem dan aktivitas akademik di lingkungan kampus.
Melalui sosialisasi dan pembekalan tersebut, UMRI berharap dosen pengampu AIK semakin siap menyelaraskan metode pengajaran dan sistem asesmen.
Pembelajaran AIK juga diarahkan agar lebih kontekstual dan menarik sehingga nilai yang dipelajari mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas.
Di sisi lain, Rektor UMRI menyampaikan sejumlah arah pengembangan institusi, termasuk rencana memprioritaskan pembangunan rumah sakit dan aula.
Seiring perkembangan tersebut, ia mengingatkan sivitas akademika agar tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi identitas perguruan tinggi Muhammadiyah. (*)
