Mendiktisaintek Soroti Penguatan Sains Fundamental
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyebut Indonesia memiliki potensi besar dalam pendidikan tinggi. Pada 2025 terdapat 34.711 program studi, 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, serta 2,78 juta lulusan. Dari keseluruhan program studi tersebut, bidang pendidikan mencapai 7.045 program studi dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa.

RINGKASAN BERITA:
- Sains fundamental menjadi perhatian di tengah perkembangan AI dan komputasi kuantum.
- Perguruan tinggi didorong memperkuat riset dan inovasi agar berdampak bagi masyarakat dan kebutuhan industri.
- Kampus kependidikan diharapkan melahirkan guru inovatif yang mampu meningkatkan minat peserta didik terhadap sains dan teknologi.
RIAUCERDAS, JAKARTA – Penguatan sains fundamental menjadi salah satu perhatian Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan komputasi kuantum.
Perguruan tinggi dinilai perlu memastikan pengembangan keilmuan, riset, dan inovasi tetap menghasilkan dampak bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Brian dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) ke-12 yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan”, Jumat (2/10/2026).
Brian menyebut Indonesia memiliki potensi besar dalam pendidikan tinggi. Pada 2025 terdapat 34.711 program studi, 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, serta 2,78 juta lulusan.
Dari keseluruhan program studi tersebut, bidang pendidikan mencapai 7.045 program studi dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa.
Di sisi lain, proporsi mahasiswa pada bidang STEM yang mencakup teknik, kesehatan, pertanian, serta matematika dan MIPA masih sekitar 28 persen.
Kondisi itu menjadi perhatian dalam upaya memperkuat bidang keilmuan strategis yang berkaitan dengan perkembangan sains, teknologi, dan industri.
“Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science,” terang Menteri Brian.
Menurut Brian, pengembangan pendidikan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada penambahan program studi.
Penguatan substansi keilmuan menjadi bagian penting agar perguruan tinggi mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menghasilkan lulusan yang adaptif.
“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya,” ujar Mendiktisaintek.
Peran perguruan tinggi kependidikan juga menjadi perhatian.
Brian menilai kampus yang menyiapkan calon guru perlu melahirkan pendidik inovatif sehingga mampu mendorong ketertarikan peserta didik terhadap sains dan teknologi.
“Kampus-kampus pendidikan, kampus-kampus yang nantinya akan melahirkan guru-guru yang inovatif. Kampus yang akan melahirkan inovasi-inovasi di bidang pendidikan,” ujar Brian.
Ia juga menekankan perlunya stimulus bagi guru yang menghasilkan inovasi pembelajaran.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan minat peserta didik terhadap berbagai bidang keilmuan, terutama sains fundamental.
Selain pembelajaran, kualitas riset dan inovasi perguruan tinggi juga perlu diperkuat. Pimpinan kampus didorong membangun hubungan lebih dekat dengan industri agar memahami perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
“Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar,” tutur Mendiktisaintek.
Penguatan kapasitas dosen dan peningkatan jumlah profesor turut menjadi bagian dari perhatian Mendiktisaintek.
Perguruan tinggi diharapkan memfasilitasi pengembangan karier akademik dosen untuk mendukung kualitas pendidikan dan kapasitas riset nasional.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak yang menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi.
Riset dan kegiatan akademik diharapkan dapat menjawab persoalan masyarakat serta kebutuhan daerah.
Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan, menilai pendidikan memiliki peran penting dalam membangun sumber daya manusia dan karakter, termasuk integritas, gotong royong, serta cinta Tanah Air.
Ia juga berharap KONASPI dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pendidikan berbasis bukti dan mendorong LPTK meningkatkan kompetensi serta profesionalisme guru melalui kolaborasi.
Melalui KONASPI ke-12, perguruan tinggi diharapkan semakin memperkuat sinergi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan inovasi pembelajaran, memperkuat riset sains dan teknologi, serta menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. (*)
