Kemenag Kawal 42 Ribu Pesantren

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Ditjen Pesantren menjadi bagian dari upaya Kemenag membina sekitar 42 ribu pesantren di Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan sambutan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin di Gresik, Jawa Timur, Sabtu (10/10/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Kemenag menggunakan sistem pendataan untuk memantau sekitar 42 ribu pondok pesantren di Indonesia.
  • Menag mendorong tata kelola pendidikan Mambaus Sholihin, dari tingkat dasar hingga S3, menjadi prototipe bagi pesantren lain.
  • Mambaus Sholihin dirintis sejak 1981, memiliki 10 cabang resmi, dan mencakup area seluas 29 hektare.

RIAUCERDAS, GRESIK – Kementerian Agama (Kemenag) mendorong penguatan tata kelola pendidikan pesantren di Indonesia melalui pembinaan yang lebih terarah.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut keberadaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren memungkinkan kementeriannya secara khusus melayani dan mengawal sekitar 42 ribu pondok pesantren di Tanah Air.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin saat mengunjungi Pondok Pesantren Mambaus Sholihin di Gresik, Jawa Timur, Sabtu (10/10/2026).

Dalam kunjungan itu, ia didampingi Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said.

Menurut Nasaruddin, Ditjen Pesantren berperan penting dalam mendukung ekosistem pendidikan pesantren yang tersebar di berbagai wilayah.

Kemenag juga memanfaatkan tata kelola dan sistem pendataan untuk memantau perkembangan puluhan ribu lembaga tersebut.

“Kita sekarang memiliki sistem yang secara khusus memantau sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Kehadiran Ditjen ini adalah wujud pengabdian tulus agar negara hadir membersamai perjuangan pesantren,” ujar Nasaruddin.

Tata Kelola Pendidikan

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin turut menyoroti sistem pendidikan Mambaus Sholihin yang memiliki jenjang lengkap, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi tingkat doktoral.

Ia mendorong pola pengelolaan dan pembinaan santri di pesantren tersebut agar dapat diterapkan di lembaga pendidikan pesantren lainnya.

“Saya sudah lama membaca direktori Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, mulai dari TK sampai perguruan tinggi S3, sejarahnya, dan kurikulumnya. Saya mendorong model tata kelola pendidikan dan pembinaan santri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin ini agar dapat direplikasi dan menjadi prototipe bagi pesantren di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Apresiasi terhadap perhatian pemerintah disampaikan Muhammad Majduddin, yang mewakili pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik.

Ia menilai kunjungan Menteri Agama secara langsung ke pesantren menunjukkan perhatian terhadap lembaga pendidikan yang memiliki peran panjang dalam sejarah Indonesia.

“Sepertinya baru kali ini Menteri Agama berkunjung maraton langsung dari pesantren ke pesantren. Ini merupakan satu wujud nyata perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren, yang diakui atau tidak, merupakan lembaga pendidikan tertua dan paling berjasa di negeri ini,” ungkap Majduddin.

Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah atau umara dan ulama, termasuk para kiai, untuk menjaga persatuan serta ketenteraman masyarakat.

Ia mengutip kaidah keislaman yang menempatkan persatuan ulama dan pemimpin sebagai salah satu landasan untuk mencegah kerusakan dan kegaduhan.

“Ittihadul ulama ma’a wulatil amri sababan raisan li raddil fasad—persatuan ulama bersama umara menjadi sebab pokok untuk menolak kerusakan, menangkal kegaduhan, serta menyebarkan ketenteraman (intisyarut thuma’ninah) di tengah masyarakat,” kutip Majduddin.

Ia menjelaskan, Mambaus Sholihin mulai dirintis pada 1981 dan kini memiliki 10 cabang resmi di seluruh Indonesia dengan total area mencapai 29 hektare.

Sinergi antara pemerintah melalui Ditjen Pesantren dan pengelola pondok diharapkan dapat memperkuat kontribusi santri bagi masa depan Indonesia.

Majduddin turut memaparkan bahwa kurikulum Mambaus Sholihin memadukan tradisi keilmuan pesantren klasik, metode pendidikan modern, dan pembinaan spiritual.

Menurutnya, karakter pendidikan tersebut berkaitan dengan pengalaman keilmuan pengasuh pesantren, KH. Masbuhin Faqih.

Karakter Mambaus Sholihin merupakan perpaduan utuh. Beliau (KH. Masbuhin Faqih) mengenyam pendidikan di Gontor yang menitikberatkan pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris secara aktif serta kedisiplinan.

“Kemudian beliau melanjutkan talaqqi ke Pondok Pesantren Langitan mendalami kitab kuning secara mendalam—mulai dari Alfiyah, Ushul Fiqh, Imrithi, hingga Nahwu dan Sharaf. Sisi spiritualitasnya diperkuat melalui baiat dan bimbingan langsung Romo KH. Utsman Al-Ishaqi,” tandasnya.(*)

Share to: