Bendungan Cipogas Mulai Dinormalisasi, Pemkab Rohul Kerahkan Alat Berat Atasi Keluhan Petani
Pemkab Rokan Hulu mulai menormalisasi Bendungan Cipogas setelah petani mengeluhkan kondisi irigasi. Sedimentasi disebut turut memengaruhi aliran dan ketersediaan air untuk pertanian.

RINGKASAN BERITA :
- Normalisasi Bendungan Cipogas mulai dikerjakan sejak pekan sebelumnya dengan memanfaatkan satu alat berat yang tersedia.
- Pekerjaan dipercepat setelah petani menyampaikan keluhan kepada Bupati Rokan Hulu, Anton.
- Sedimentasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aliran air, selain kondisi kemarau.
RIAUCERDAS, PASIR PENGARAIAN – Sedimentasi yang mengganggu aliran air menjadi salah satu persoalan yang mendorong normalisasi Bendungan Cipogas di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).
Pemerintah kabupaten kini mulai menangani kondisi bendungan tersebut setelah menerima keluhan petani yang mengandalkan saluran irigasinya untuk mengairi lahan pertanian.
Pengerjaan normalisasi telah dimulai sejak pekan lalu dengan mengerahkan satu alat berat yang tersedia di lokasi. Langkah ini diambil tanpa menunggu seluruh alat tambahan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian Pekerjaan Umum tiba.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Rohul, Zulfikri, melalui Kabid Pengaraian, Sawaluddin Rasyid Dly, ST, mengatakan pekerjaan fisik sudah berjalan sejak Selasa. “Selasa kemarin sudah mulai kita kerja,” ujar Sawaluddin, Minggu (4/10/2026).
Menurut Sawaluddin, pihaknya semula menunggu kedatangan peralatan dari BWS untuk mendukung pengerukan dan penanganan sedimentasi.
Namun, karena proses tersebut membutuhkan waktu, pekerjaan akhirnya dimulai dengan mengoptimalkan alat yang sudah tersedia.
“Ada satu alat BWS yang tinggal. Jadi kita maksimalkan aja dulu alat itu,” katanya. Ia menjelaskan, apabila alat berat tambahan dari BWS tiba, peralatan tersebut akan langsung dimanfaatkan untuk melanjutkan pekerjaan di bendungan.
Dengan demikian, proses normalisasi diharapkan dapat berlangsung lebih cepat.
Jadi Penopang Irigasi Petani
Kondisi Bendungan Cipogas sebelumnya menjadi keluhan para petani di Rohul. Aspirasi tersebut telah disampaikan kepada Bupati Anton, yang kemudian meminta Dinas PUPR segera melakukan normalisasi.
Bendungan ini memiliki peran penting bagi kegiatan pertanian masyarakat karena menjadi salah satu sumber utama pengairan lahan warga.
Gangguan pada aliran air berpotensi menyulitkan petani dalam memenuhi kebutuhan irigasi.
Karena itu, penanganan sedimentasi menjadi bagian penting dalam upaya menjaga fungsi bendungan agar dapat mendukung kebutuhan air di kawasan pertanian.
Selain kondisi kemarau, penumpukan sedimen di Bendungan Cipogas disebut turut memengaruhi ketersediaan air bagi petani. Material yang mengendap membuat air lebih cepat mengalir ke bagian hilir sehingga tidak tertampung secara optimal.
Kepala Dinas PUPR Rohul, Zulfikri, sebelumnya menjelaskan bahwa persoalan air di bendungan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca.
“Bukan hanya faktor kemarau ya. Faktor sedimentasi ini juga berpengaruh,” paparnya. Normalisasi yang kini berjalan diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan sedimentasi dan mendukung fungsi Bendungan Cipogas sebagai infrastruktur pengairan pertanian.
Pemkab Rohul melanjutkan pekerjaan dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia sembari menunggu dukungan alat tambahan dari BWS. Kecepatan penyelesaian pekerjaan menjadi penting bagi petani yang bergantung pada bendungan tersebut untuk kebutuhan irigasi. (adv)
