Pemkab Rohul Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau
Wabup Syafaruddin Poti memimpin apel siaga Karhutla di Rokan Hulu. Menghadapi puncak kemarau Juli–Agustus, seluruh unsur diminta memperkuat koordinasi dan pencegahan.

RINGKASAN BERITA:
- Pemkab Rohul menggelar apel siaga dan simulasi penanggulangan Karhutla untuk menghadapi musim kemarau.
- BMKG memperkirakan kemarau di Riau, khususnya Rohul, berlangsung Juni hingga Oktober dengan puncak pada Juli dan Agustus.
- Pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat didorong memperkuat patroli, sosialisasi, serta kesiapan peralatan.
RIAUCERDAS, PASIR PENGARAIAN – Menghadapi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu memperkuat kesiapsiagaan dengan melibatkan berbagai unsur terkait. Wakil Bupati Rokan Hulu, Syafaruddin Poti, memimpin apel siaga penanggulangan Karhutla di halaman Kantor Bupati Rohul, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi risiko kekeringan dan kebakaran yang dapat mengancam lingkungan serta menimbulkan bencana asap.
Apel juga dirangkaikan dengan pemeriksaan peralatan dan simulasi penanggulangan Karhutla.
Sejumlah pejabat dan unsur terkait hadir dalam kegiatan itu, di antaranya Kapolres Rokan Hulu AKBP Emil Eka Putra, perwakilan Dandim 0313/KPR, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), BPBD Provinsi Riau, jajaran Pemkab Rohul, para Kapolsek, Danramil, camat se-Rokan Hulu, serta perwakilan perusahaan perkebunan.
Apel kesiapsiagaan melibatkan berbagai unsur yang berperan dalam pencegahan dan penanganan Karhutla, mulai dari Bhabinkamtibmas, Babinsa, BPBD Kabupaten Rohul, Polisi Kehutanan, Satpol PP dan Damkar, Tim Reaksi Cepat BPBD, Manggala Agni, Tagana, relawan, hingga perwakilan perusahaan perkebunan dan kelapa sawit.
Syafaruddin Poti mengatakan, apel siaga tersebut digelar untuk memastikan kesiapan seluruh pihak menghadapi musim kemarau yang mulai berlangsung.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Rokan Hulu, diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga Oktober.
Menurutnya, kondisi kemarau berpotensi meningkatkan kekeringan sekaligus risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, langkah antisipasi perlu dipersiapkan sejak dini agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Wabup juga menekankan bahwa upaya penanggulangan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, lintas sektoral. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat harus membangun kerja sama untuk mencegah munculnya titik api maupun menangani kebakaran jika terjadi.
Sementara, Kapolres Rokan Hulu AKBP Emil Eka Putra menegaskan bahwa apel kesiapsiagaan menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi, sinergi, dan kesungguhan seluruh unsur dalam menjalankan tugas pencegahan Karhutla.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi semua unsur menjadi kunci keberhasilan dalam mencegah dan menanggulangi Karhutla di Kabupaten Rokan Hulu,” terang Kapolres.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan meningkatkan langkah antisipatif melalui patroli rutin, sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, serta memastikan kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan.
Keterlibatan masyarakat juga dinilai penting dalam mencegah kebakaran sejak awal. Di samping itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan perlu dikedepankan sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan gelar kendaraan dan pengecekan peralatan penanggulangan Karhutla milik Polres Rokan Hulu, BPBD Kabupaten Rokan Hulu, Damkar Kabupaten Rokan Hulu, serta Satria Kresna Bonai.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan personel dan peralatan berada dalam kondisi siap digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup Focus Group Discussion (FGD) dan simulasi penanggulangan Karhutla. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat koordinasi hingga tingkat bawah sehingga upaya pencegahan dan penanganan dapat dilaksanakan secara cepat, terukur, dan efektif.
Melalui kesiapan personel, kelengkapan peralatan, serta kolaborasi lintas sektor, Kabupaten Rokan Hulu diharapkan mampu menekan potensi Karhutla dan mencegah dampak kabut asap, sekaligus menjaga lingkungan agar tetap aman dan sehat. (adv)
