Siapkan 3 Strategi Atasi Stunting di Rohul

Syafaruddin Poti yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Rohul meminta seluruh pihak terlibat dalam pelaksanaan program

Suasana rapat koordinasi tematik stunting tingkat Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) tahun 2026, Kamis (16/7/2026) di Aula Bapperida (Sumber:Diskominfo Rohul)

RINGKASAN BERITA:

  • Pemkab Rohul menyiapkan tiga strategi untuk memperkuat penanganan stunting pada 2026.
  • Intervensi gizi, sanitasi, air bersih dan ketahanan pangan diarahkan tepat sasaran hingga tingkat desa.
  • Kader dan tenaga kesehatan diminta memperbarui data lapangan secara berkala.

RIAUCERDAS, PASIR PENGARAIAN – Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) menyiapkan tiga strategi untuk memperkuat upaya penurunan stunting pada 2026.

Salah satu fokusnya memastikan seluruh intervensi gizi dan layanan pendukung benar-benar menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.

Wakil Bupati Rohul, Syafaruddin Poti mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam konvergensi program penanganan stunting tahun ini.

“Fokus utama konvergensi tahun ini memastikan intervensi gizi spesifik dan sensitif berjalan tepat sasaran langsung ketingkat desa,” ungkapnya ketika membuka rapat koordinasi tematik stunting tingkat Rohul tahun 2026, Kamis (16/7/2026).

Syafaruddin Poti yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Rohul meminta seluruh pihak terlibat dalam pelaksanaan program.

Ketua Tim Penggerak PKK Rohul, dr. Yeni Dwi Putri, serta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemkab Rohul turut hadir dalam rapat tersebut.

Strategi pertama yang dipaparkan adalah memastikan intervensi spesifik di bidang kesehatan dan intervensi sensitif, seperti sanitasi, penyediaan air bersih serta ketahanan pangan, dapat diterapkan secara tepat sasaran hingga desa.

Langkah kedua diarahkan pada intervensi sejak tahap awal.

Upaya tersebut mencakup calon pengantin, ibu hamil hingga balita usia dua tahun agar kebutuhan gizi dan layanan kesehatan dapat terpenuhi secara optimal.

Strategi ketiga berkaitan dengan pembaruan informasi di lapangan.

Kader dan tenaga kesehatan diminta memastikan data terus diperbarui agar pelaksanaan program dapat menyesuaikan kondisi yang ditemukan di masyarakat.

Lalu, seluruh kader dan tenaga kesehatan diminta terus memperbarui data lapangan.

Pemkab Rohul juga menjadikan angka prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 sebagai perhatian.

Dalam data tersebut, prevalensi stunting tercatat 21,4 persen atau meningkat 5,5 poin persentase dibandingkan 2023.

Syafaruddin mengajak seluruh pihak memperkuat kerja bersama agar langkah pencegahan dapat berjalan secara optimal.

“Mari bersama kita sukseskan program pencegahan stunting demi mewujudkan generasi masa depan Rohul yg sehat, cerdas dan berdaya saing tinggi,” ajaknya. (adv)

Share to: