Normalisasi Sungai Batang Lubuh Rampung, PUPR Rohul Sebut Risiko Banjir Besar Berkurang
Pengerukan sedimentasi yang sebelumnya membentuk pulau pasir di tengah sungai diharapkan memperlancar aliran air dan membantu mengurangi risiko banjir besar.

RINGKASAN BERITA:
- Normalisasi Sungai Batang Lubuh telah diselesaikan setelah dikerjakan selama dua tahun.
- Endapan pasir yang sebelumnya membentuk pulau di tengah sungai kini tidak lagi terlihat.
- Pengerjaan dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), dengan dukungan alat dari BWS dan biaya bahan bakar serta operator ditanggung PUPR Rohul.
RIAUCERDAS, PASIR PENGARAIAN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) menyelesaikan normalisasi Sungai Batang Lubuh yang melintasi Kota Pasir Pengaraian.
Pengerukan sedimentasi yang berlangsung selama dua tahun ini diharapkan membantu memperlancar aliran sungai dan mengurangi risiko banjir besar.
Dijelaskan Kepala Dinas PUPR Rohul, Zulfikri, pekerjaan normalisasi di sungai tersebut telah rampung. Salah satu perubahan yang terlihat adalah hilangnya endapan pasir yang sebelumnya membentuk semacam pulau di tengah aliran sungai.
“Kegiatan normalisasi di Sungai Batang Lubuh sudah selesai kita laksanakan,” terang Zulfikri, Rabu (16/9/2026). Sebelum pengerukan dilakukan, tumpukan sedimentasi di tengah sungai terlihat jelas dari Jembatan Batang Lubuh di Pasir Pengaraian.
Endapan tersebut membentuk hamparan pasir yang menyerupai pulau kecil di badan sungai. Setelah normalisasi, endapan yang sebelumnya berada di tengah aliran sungai itu tidak lagi terlihat. Hamparan pasir kini tampak berada di bagian tepi sungai.
Menurut Zulfikri, normalisasi dilakukan untuk membantu menjaga kelancaran aliran air. Ia menyebut banjir besar tidak terjadi di Pasir Pengaraian selama dua tahun terakhir, sedangkan banjir yang sempat terjadi dapat lebih cepat surut.
“Alhamdulillah sudah 2 tahun ini nggak ada banjir besar di Pasir Pengaraian. Kalau pun terjadi banjir, cepat surutnya,” ungkap dia. Meski demikian, normalisasi sungai menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengurangi risiko banjir.
Kondisi banjir tetap dapat dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk curah hujan dan debit air sungai.
Dalam pelaksanaan pengerukan, Dinas PUPR Rohul berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), mengingat tiga sungai besar di wilayah tersebut berada di bawah kewenangan balai itu.
Zulfikri menjelaskan, pihaknya meminta rekomendasi BWS sebelum melaksanakan pekerjaan di sungai. Menurutnya, koordinasi tersebut diperlukan agar kegiatan normalisasi dapat dilakukan sesuai kewenangan yang berlaku.
“Kita minta rekom dari BWS untuk melaksanakan kegiatan di sungai dan mereka selalu mengizinkan,” tutur Zulfikri.
Untuk mendukung pekerjaan, PUPR Rohul memanfaatkan alat dari BWS. Sementara itu, biaya bahan bakar dan sewa operator ditanggung oleh dinas tersebut.
Zulfikri menilai pola kerja sama itu dapat membantu menekan kebutuhan anggaran sekaligus mendukung penanganan sungai yang manfaatnya diharapkan dirasakan masyarakat, khususnya dalam upaya mengurangi dampak banjir di Pasir Pengaraian. (adv)
