Cerita Biji pada Komik Buah Ajaib Buka Jalan Belajar STEM
Komik Buah Ajaib karya Tuti Adhayati tidak hanya digunakan sebagai bacaan tentang biji pala, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar kontekstual. Guru dapat mengembangkan ceritanya menjadi pembelajaran STEM dengan mengajak murid menemukan persoalan, merancang solusi, melakukan perhitungan, serta mengaitkannya dengan IPS dan nilai ekonomi pala.

- Cerita tentang jamur pada biji pala dapat dikembangkan menjadi persoalan yang harus dipecahkan murid.
- Informasi mengenai manfaat, pengolahan, dan sejarah pala disampaikan dengan gambar serta warna.
- Cerita Buah Ajaib dapat dikaitkan dengan IPA, matematika, engineering, hingga IPS dan nilai ekonomi komoditas pala.
RIAUCERDAS, JAKARTA – Cerita tentang biji pala dalam komik Buah Ajaib tidak berhenti sebagai bacaan anak. Buku karya Tuti Adhayati tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber belajar kontekstual yang mengajak murid menemukan persoalan, menghitung, merancang solusi, hingga menghubungkan pengetahuan dengan potensi ekonomi Indonesia.
Pemanfaatan komik sebagai pemantik pembelajaran tersebut dibahas dalam kegiatan Bedah Buku Seri “Balik Cerita” yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Guru SMP Bosowa Bina Insani Bogor, Kharisma Prawesti Sri Utami, mengatakan cerita dalam Buah Ajaib dapat menjadi titik awal bagi murid untuk mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi melalui pendekatan STEM.
Salah satu persoalan yang dapat dikaji adalah jamur yang berkaitan dengan biji pala. Setelah menemukan persoalan dari cerita, murid dapat diarahkan untuk memikirkan berbagai solusi yang mungkin dilakukan.
Menurut Kharisma, aspek engineering dalam pembelajaran STEM tidak selalu berkaitan dengan mesin atau teknologi. Merancang maupun merekayasa solusi atas persoalan yang ditemukan juga merupakan bagian dari pendekatan tersebut.
“Karena engineering bukan hanya berkaitan dengan mesin, namun desain atau rekayasa solusi apa yang dapat dilakukan sudah termasuk dalam pembelajaran engineering sendiri,” ungkap dia.
Konsep matematika pun dapat dimasukkan melalui aktivitas sederhana yang berkaitan dengan cerita. Murid, misalnya, dapat diajak menghitung ukuran rak yang digunakan untuk mengeringkan buah pala atau memperkirakan waktu yang diperlukan dalam proses pengeringan.
“Setelah membaca buku komik tersebut dapat memberikan lembar kerja yang berisi pertanyaan tentang masalah yang ditemukan dalam cerita dan solusi yang dapat dirancang oleh murid,” terang Kharisma.
Pembelajaran yang bersumber dari komik tersebut juga dapat dikembangkan lintas mata pelajaran. Kharisma mengatakan pembahasan mengenai pala dapat dihubungkan dengan IPS, terutama ketika membicarakan pala sebagai komoditas ekspor dan pengolahan produk untuk meningkatkan nilai ekonomi.
“Berbicara STEM tidak hanya dikaitkan dengan IPA namun bisa dengan mata pelajaran lain seperti komik ini bisa dikaitkan dengan IPS yakni komoditas ekspor atau bagaimana meningkatkan ekonomi dengan cara mengolahnya,” katanya.
Di sisi lain, Buah Ajaib memang dirancang agar informasi mengenai pala dapat disampaikan kepada anak melalui cerita dan visual. Penulisnya, Tuti Adhayati, mengaku tertarik mengangkat pala karena melihat masih banyak orang, termasuk orang dewasa, yang belum mengetahui secara utuh bentuk biji pala maupun beragam manfaatnya.
“Biji Pala bukan cuma untuk membuat soto, bukan cuma jadi bumbu aja. Tetapi dapat diolah menjadi obat-obatan, parfum, banyak sekali yang lengkap berada dalam kehidupan kita tanpa kita sadari,” ujar Tuti.
Ketertarikan tersebut kemudian mendorong Tuti melakukan riset mengenai biji pala. Ia mempelajari manfaat, pengolahan, hingga sejarah pala sebagai salah satu komoditas yang pernah memiliki nilai tinggi dan menarik perhatian dunia.
“Bahwa di Indonesia itu punya salah satu rempah-rempah yang dulu pernah mahal harganya, namun sekarang mungkin sudah banyak dan tampak biasa saja,” kata Tuti.
Tuti memilih komik sebagai format penyampaian karena ingin membuat informasi tentang pala lebih mudah diterima anak-anak. Cerita kemudian dilengkapi dengan gambar dan warna agar pembaca tidak merasa sedang berhadapan dengan bacaan yang kaku.
“Pokoknya harus banyak gambarnya, berwarna, supaya anak-anak bacanya tidak membosankan dan kaku,” ujarnya.
Sasaran pembaca buku tersebut ditujukan pada jenjang sekolah dasar. Tuti berupaya menyederhanakan informasi agar tidak membebani konsentrasi anak. Salah satu persoalan yang dimasukkan ke dalam alur cerita adalah jamur yang berkaitan dengan pala.
Informasi mengenai manfaat dan kandungan pala kemudian disisipkan melalui situasi yang dialami tokoh dalam komik. Dengan cara tersebut, pengetahuan tetap tersampaikan tanpa membuat anak merasa harus berpikir terlalu berat.
“Jadi tujuan utama agar info tentang masalah dalam komik tersebut tetap masuk tapi anak-anak tidak merasa seperti dibebankan untuk berpikir keras,” terangnya.
Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, mengatakan kegiatan bedah buku merupakan salah satu upaya meningkatkan literasi sekaligus memperkenalkan berbagai buku kepada masyarakat, termasuk terbitan Pusat Perbukuan serta karya penulis dan lembaga lainnya.
“Bedah buku yang dilakukan sebagai sebuah ikhtiar dalam rangka untuk meningkatkan literasi, memperkenalkan buku-buku hasil terbitan Pusat Perbukuan maupun buku-buku yang dituliskan oleh para penulis dan juga dari berbagai lembaga,” ujar Supriyatno.
Melalui Buah Ajaib, aktivitas membaca dapat berkembang menjadi proses menemukan masalah dan mencari jawaban. Cerita mengenai pala membuka ruang bagi murid untuk membaca, bertanya, menghitung, merancang solusi, sekaligus mengenal potensi Indonesia melalui cara yang lebih kontekstual. (*)
