Dosen UIR Diminta Perkuat Peran Pendidikan Islam

Kajian rutin bulanan Universitas Islam Riau membahas tantangan pendidik di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi. Dosen didorong tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam menjaga iman, akhlak, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab sosial.

Suasana Kajian Rutin Bulanan Civitas Akademika UIR yang diselenggarakan Direktorat Dakwah Islamiyah (DDI), Jumat (2/10/2026). Kajian tersebut menghadirkan Prof Dr H Alaidin Koto MA sebagai pemateri dan dilaksanakan secara hybrid. (Sumber: UIR)

RINGKASAN BERITA:

  • Dosen didorong menjadi pembimbing karakter dan keislaman, bukan sekadar penyampai materi.
  • Mahasiswa perlu dibekali kemampuan kritis dalam menyaring informasi keagamaan di tengah perkembangan teknologi.
  • Nilai iman, ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial ditekankan sebagai bagian dari pendidikan di UIR.

RIAUCERDAS, PEKANBARU – Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat peran dosen di perguruan tinggi dinilai semakin luas.

Di Universitas Islam Riau (UIR), pendidik didorong tidak hanya menyampaikan pengetahuan akademik, tetapi juga membantu mahasiswa membangun karakter, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman keislaman yang berlandaskan Al-Quran.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kajian Rutin Bulanan Civitas Akademika UIR yang diselenggarakan Direktorat Dakwah Islamiyah (DDI), Jumat (2/10/2026).

Kajian tersebut menghadirkan Prof Dr H Alaidin Koto MA sebagai pemateri dan dilaksanakan secara hybrid.

Dalam kajian itu, Alaidin Koto mengulas keterkaitan ilmu yang terdapat dalam Al-Quran dengan pendekatan akademik.

Ia juga menyoroti tantangan yang muncul seiring pemanfaatan teknologi dalam kehidupan mahasiswa.

“Sebagai dosen yang setiap hari bertemu dengan mahasiswa perlu membimbing mahasiswa agar kritis terhadap informasi keagamaan, memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu bukan pengganti proses berfikir, hingga mengajarkan integrasi nilai iman, ilmu, akhlak dan tanggung jawab sosial”, katanya.

Menurut materi yang disampaikan dalam kajian tersebut, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi.

Perubahan karakter generasi muda, derasnya informasi, budaya serba instan, serta menurunnya kemampuan memeriksa kebenaran informasi juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Dalam kondisi tersebut, pendidik ditempatkan sebagai murabbi yang memiliki peran membimbing mahasiswa, bukan hanya menyampaikan materi perkuliahan.

Kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada dosen dan tenaga kependidikan untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang ditemui dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

Direktur DDI UIR Dr H Saproni MEd turut memberikan pandangan melalui kisah Nabi Adam.

Ia mengaitkan kisah tersebut dengan kebutuhan mahasiswa untuk mampu mengenali tantangan dalam kehidupan dan menentukan sikap terhadap berbagai pengaruh di sekitarnya.

“Ketika Nabi Adam disiapkan untuk menjadi Khalifah maka ia diminta untuk menentukan siapa musuhnya, artinya dalam kehidupan mahasiswa memiliki sisi seimbang harus mampu berteman dan juga menentukan siapa yang menjadi lawan pada diri sendiri’, tutur Saproni.

Kajian rutin tersebut menjadi salah satu sarana bagi civitas akademika UIR untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai perguruan tinggi yang menjalankan Catur Dharma Perguruan Tinggi dengan Dakwah Islamiah sebagai salah satu bagiannya, UIR menempatkan nilai Al-Quran dan keislaman sebagai salah satu landasan dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembentukan karakter sivitas akademika.

Melalui kegiatan tersebut, dosen dan tenaga kependidikan diharapkan dapat mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menjalankan peran pembinaan kepada mahasiswa.

Bekal yang ditekankan mencakup iman, akhlak, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab sosial dalam menghadapi perubahan zaman. (*)

Share to: