Kemdiktisaintek Soroti Integritas Riset, Siapkan Aturan Akreditasi Jurnal

Kemdiktisaintek menyoroti pentingnya integritas akademik dalam pengembangan ekosistem sains dan teknologi. Pemerintah menyiapkan Peraturan Menteri tentang Akreditasi Jurnal sebagai salah satu langkah mencegah praktik predatory journal dan pelanggaran akademik.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan sambutan secara daring dalam rangkaian Week of Indonesia–Netherlands Education and Research (WINNER) 2026, Selasa (6/10/2026). (Sumber: Kemendiktisaintek)

RINGKASAN BERITA:

  • Pelanggaran akademik seperti plagiarisme dan jual-beli publikasi menjadi perhatian dalam kolaborasi riset.
  • Kemdiktisaintek menyiapkan aturan akreditasi jurnal untuk memberantas predatory journal.
  • WINNER 2026 membuka peluang kolaborasi pendidikan, riset, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan Indonesia-Belanda.

RIAUCERDAS, JAKARTA – Penguatan kolaborasi riset Indonesia dan Belanda dinilai perlu berjalan seiring dengan peningkatan integritas akademik. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyoroti sejumlah bentuk pelanggaran akademik sekaligus menyiapkan langkah pencegahan melalui Peraturan Menteri tentang Akreditasi Jurnal.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, dalam rangkaian Week of Indonesia–Netherlands Education and Research (WINNER) 2026, Selasa (6/10/2026).

Najib menyebutkan sejumlah persoalan yang masih dihadapi Indonesia dalam pengembangan sains dan teknologi, termasuk belum adanya peraih Nobel dari dalam negeri serta belum masuknya perguruan tinggi nasional ke jajaran 100 terbaik dunia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemdiktisaintek mendorong transformasi ekosistem sains dan teknologi melalui tiga pilar, yakni pengembangan talenta, strategi dan sistem pembelajaran transformatif, serta diseminasi dan pemanfaatan sains dan teknologi.

“Kami berupaya menjadikan sains dan teknologi sebagai bagian dari budaya masyarakat melalui program-program matchmaking yang mengkolaborasikan perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil dengan dukungan pendanaan dari LPDP,” ujar Dirjen Najib dilansir dari laman Kemdiktisaintek.

Dalam kolaborasi riset, termasuk dengan Belanda, Najib menekankan pentingnya integritas para peneliti.

Ia menyoroti maraknya kasus academic misconduct, mulai dari plagiarisme, jual-beli publikasi, kartel sitasi, riset dan konferensi fiktif hingga fenomena sitasi AI.

Kemdiktisaintek mengambil pelajaran dari penanganan kasus Diederik Stapel di Belanda yang melibatkan tiga komite investigasi universitas.

Dari pengalaman tersebut, kementerian tengah menyiapkan langkah pencegahan sekaligus tindakan korektif.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah Peraturan Menteri tentang Akreditasi Jurnal.

Regulasi tersebut diarahkan untuk memberantas predatory journal sekaligus menjaga martabat komunitas akademik Indonesia.

Sementara itu, penguatan kerja sama pendidikan dan riset Indonesia-Belanda menjadi bagian utama WINNER 2026 yang mengusung tema “Competitive and Resilient Societies: Human Capital, Innovation & Sustainability”.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan kemitraan kedua negara yang telah berlangsung lama memiliki ruang untuk dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi, kesempatan bagi mahasiswa dan peneliti, serta riset dan inovasi bersama.

“Kita dapat memperkuat kolaborasi antar perguruan tinggi, memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan peneliti, serta mengembangkan riset dan inovasi bersama yang dapat menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat kita. Saya berharap WINNER 2026 dapat membuka peluang-peluang baru, menghasilkan gagasan-gagasan baru, dan membangun hubungan yang lebih kuat antara masyarakat dan institusi kita,” tegas Mendiktisaintek.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Kerajaan Belanda, Rianne Letschert, juga menekankan pentingnya hubungan pendidikan dengan dunia kerja serta investasi pada talenta di bidang sains dan teknologi.

“Seperti Indonesia, kami percaya pada pentingnya menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja. Kami berinvestasi pada talenta-talenta yang menjanjikan di bidang sains dan teknologi. Kami juga menyadari pentingnya melihat lebih jauh dari batas-batas negara kita sendiri. Karena pengetahuan menjadi semakin berharga ketika kita membagikannya dan WINNER adalah contoh yang baik,” tutur Menteri Rianne.

Kepala BRIN Arif Satria menambahkan bahwa inovasi membutuhkan keterhubungan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, industri dan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan, penelitian dan inovasi memiliki peran berbeda tetapi saling melengkapi dalam menghasilkan solusi yang memberi nilai nyata bagi masyarakat.

WINNER 2026 berlangsung pada 6–8 Oktober 2026 di dua negara dan tiga lokasi, yakni kantor Kemdiktisaintek, Universitas Trisakti di Jakarta, serta Indonesia House Amsterdam.

Rangkaian kegiatan mencakup diskusi mengenai transformasi digital dan AI, pendidikan, riset dan inovasi, human capital serta keberlanjutan, sekaligus membuka informasi program riset bersama melalui Merian Fund dan gelombang ketiga program INUCoST. (*)

Share to: