Pakar Ungkap Penyebab Karhutla Sulit Dipadamkan, Bara Api Bisa Bertahan di Bawah Gambut
Pemadaman menjadi lebih sulit di lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meski api yang terlihat sudah padam. Ia menekankan pentingnya deteksi yang akurat, pengembangan metode pemadaman, pencegahan, dan koordinasi lintas instansi.

RINGKASAN BERITA:
- Api dapat bertahan di lapisan bawah tanah dan memicu kebakaran kembali meski permukaan terlihat padam.
- El Niño meningkatkan kerentanan. Curah hujan yang mendekati nol juga membuat bahan bakar, termasuk gambut, semakin kering dan mudah terbakar jika ada sumber penyulutan.
- Pemadaman perlu strategi terpadu. Keterbatasan akses, air, personel, dan peralatan membuat pencegahan serta koordinasi lintas instansi menjadi penting.
RIAUCERDAS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan cuaca kering, tetapi juga karakteristik api yang dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Kondisi ini membuat proses pemadaman, terutama di lahan gambut, membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.
Pakar Karhutla dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa periode El Niño yang berlangsung cukup lama disertai curah hujan sangat rendah meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap kebakaran.
“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan”, terang Fiqri dikutip dari laman UGM, Rabu (14/10/2026).
Menurut Fiqri, berkurangnya pasokan air selama musim kemarau menyebabkan kelembapan bahan bakar semakin menurun. Namun, kondisi kering bukan satu-satunya penyebab kebakaran karena tetap diperlukan sumber penyulutan yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.
“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” tambahnya.
Ia menerangkan, kebakaran di kawasan non-gambut umumnya berlangsung di permukaan dan dapat menjalar ke bagian tajuk tanaman. Berbeda dengan itu, api di lahan gambut bisa membakar permukaan sekaligus merambat ke lapisan tanah di bawahnya.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan kebakaran gambut sulit ditangani. Bara api yang berada di bawah permukaan tidak selalu terlihat sehingga api yang tampak di permukaan belum tentu menunjukkan bahwa seluruh sumber kebakaran sudah padam.
Jika air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah berpotensi tetap menyala dan memunculkan titik api baru. Karena itu, keberhasilan pemadaman perlu dinilai berdasarkan kedalaman serta lokasi bagian gambut yang terbakar.
Fiqri menyebutkan, kebakaran bawah permukaan dapat dikenali melalui sejumlah tanda, seperti vegetasi yang mengering, daun menggulung, dan munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api.
“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” ujar dia.
Selain karakteristik lahan, akses menuju lokasi kebakaran turut menentukan kecepatan penanganan. Sejumlah titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau, sementara sumber air, personel, dan sarana pemadaman belum selalu tersedia dalam jumlah memadai.
Ketika api meluas, kebutuhan waktu dan sumber daya untuk mengendalikannya pun meningkat. “Di beberapa area, sumber airnya terbatas sehingga api tidak bisa langsung dipadamkan seketika. Kebakarannya juga semakin luas, sementara di beberapa wilayah personel ataupun sarana-prasarananya terbatas,” ungkapnya.
Dalam pemantauan kebakaran, Indonesia telah menggunakan sejumlah sistem dan sumber informasi, antara lain FIRMS, Sipongi, serta data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut Fiqri, kemampuan teknologi untuk mendeteksi titik api sudah cukup baik, tetapi hasil pemantauan tetap perlu dianalisis berdasarkan tingkat keyakinan atau confidence level.
“Kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data deteksi tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level,” ujarnya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan metode pemadaman mampu menjangkau sumber api, terutama yang berada di dalam lapisan gambut.
Fiqri menyebut sejumlah pendekatan telah dikembangkan, termasuk penyuntikan air ke dalam gambut serta penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api.
Meski begitu, metode dan bahan yang digunakan masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar pemadaman dapat berlangsung hingga ke sumber kebakaran.
Pergerakan api dan asap juga dipengaruhi oleh persebaran bahan bakar, topografi, serta kondisi iklim, termasuk arah angin. Kombinasi faktor tersebut menentukan perkembangan kebakaran dan arah penyebaran asap, sehingga dampaknya dapat menjangkau wilayah di luar lokasi awal.
Dampak kabut asap dari karhutla di Sumatra dan Kalimantan dilaporkan turut dirasakan Malaysia dan Singapura. Dalam informasi yang disampaikan, penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat terdampak.
Sejumlah sekolah di beberapa negara bagian Malaysia juga masih ditutup untuk pembelajaran tatap muka.Untuk menekan risiko kebakaran, Fiqri menegaskan bahwa penanganan tidak dapat hanya bergantung pada datangnya hujan.
Pencegahan perlu diperkuat, terutama dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menggunakan api dalam pengelolaan maupun penyiapan lahan di wilayah yang rawan terbakar saat musim kemarau.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama lintas instansi dalam menangani kebakaran yang sudah terjadi. Penentuan wilayah prioritas, menurutnya, perlu memperhitungkan risiko, dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” kata Fiqri.
Dia menilai pencegahan dan pemadaman perlu dijalankan secara beriringan. Pengawasan wilayah rawan, peningkatan metode penanganan api bawah permukaan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko karhutla, khususnya ketika musim kemarau membuat bahan bakar semakin rentan terbakar. (*)
