Mahasiswa Fakultas Hukum UIR Raih Juara 1 Debat Intelektual Arena di Jakarta

Mahasiswa UIR unggul melalui format Asian Parliamentary dengan mengandalkan riset, pembagian peran, serta argumentasi tentang hukum, HAM, dan keadilan sosial. Kompetisi tersebut diikuti 16 tim dari berbagai perguruan tinggi dengan pendampingan Assoc. Prof. Dr. Zulkarnaini Umar.

Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR), Hidayatul Jannah, Yosefa Lasmaida Br. Simanjuntak, dan Denni Prasetiyo Gunawan yang meraih juara pertama Kompetisi Debat Mahasiswa Intelektual Arena yang digelar BEM Fakultas Hukum Universitas Sahid, Jakarta Selatan. (Sumber: UIR)

RINGKASAN BERITA:

  • Tim UIR berhasil mengungguli peserta dari 16 tim perguruan tinggi dalam kompetisi debat di Jakarta.
  • Ketiga mahasiswa membangun argumentasi dengan menyoroti dampak kebijakan terhadap masyarakat kecil dan kelompok rentan.
  • Riset mendalam, pembagian peran pembicara, latihan intensif, dan penggunaan interupsi menjadi bagian dari strategi mereka.

RIAUCERDAS, JAKARTA – Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) berhasil meraih juara pertama Kompetisi Debat Mahasiswa Intelektual Arena yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Sahid (USAHID), Jakarta Selatan.

Prestasi tersebut diraih melalui kompetisi berformat Asian Parliamentary yang mengangkat isu hukum, hak asasi manusia (HAM), dan keadilan sosial.

Tim UIR terdiri atas Hidayatul Jannah dari angkatan 2023, Yosefa Lasmaida Br. Simanjuntak dari angkatan 2025, serta Denni Prasetiyo Gunawan dari angkatan 2024. Ketiganya bersaing dengan 16 tim dari berbagai perguruan tinggi untuk memperebutkan posisi terbaik dalam ajang tersebut.

Kepada tim Humas, Yosefa menjelaskan bahwa kompetisi berlangsung melalui dua tahapan utama. Babak penyisihan digelar secara daring menggunakan sistem breakout room, sedangkan babak semifinal dan final dilaksanakan secara luring di Universitas Sahid, Jakarta.

Setiap tim terdiri dari 3 pembicara dan 1 pendamping yang berasal dari Perguruan Tinggi dan fakultas yang sama, dimana pada babak penyisihan menyaring 4 tim dengan nilai tertinggi untuk melaju ke babak berikutnya.

Pada babak semi final menyisakan 2 tim terbaik untuk melaju ke babak final dan 2 tim yang dengan nilai terendah.

“Kami berhasil meraih juara usai mengikuti mekanisme yang diarahkan oleh dewan juri. Lomba ini menggunakan sistem Asian Parlementer dengan sistem gugur atau knockout berdasarkan akumulasi poin penilaian juri,” terangnya.

Pada babak final, peserta bertanding secara langsung untuk menentukan juara pertama dan kedua, serta juara ketiga dan harapan pertama.

Setiap pertandingan berlangsung dengan pengaturan waktu yang ketat, yakni 30 menit untuk keseluruhan sesi, dengan alokasi 7 menit 20 detik bagi setiap pembicara.

Sementara itu, pernyataan penutup disampaikan pembicara pertama atau kedua selama 4 menit 20 detik, dan point of information dibatasi maksimal 15 detik.

Menurut Yosefa, keberhasilan tim UIR tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori hukum, tetapi juga kemampuan menghubungkan argumentasi dengan persoalan nyata di masyarakat.

Kunci kemenangan di kompetisi Debat Asian Parliamentary terletak pada pemetaan masalah yang jelas dan pembuktian dampak yang nyata.

Karena temanya tentang Hukum, HAM dan keadilan sosial, mereka tidak cuma bicara soal pasal atau teori hukum, tapi benar-benar menjelaskan bagaimana kebijakan tersebut berdampak langsung pada masyarakat kecil dan kelompok rentan.

“Kami bagi tugas dengan rapi, pembicara pertama mengunci arah perdebatan, pembicara kedua mematahkan logika lawan, dan pembicara ketiga merangkum semua benturan argumen untuk membuktikan kenapa posisi tim kami yang paling masuk akal”, ujar Yosefa.

Persiapan menjadi bagian penting dalam perjalanan tim menuju podium juara. Ketiga mahasiswa melakukan latihan intensif dan riset sebelum pertandingan, sekaligus menyusun pembagian tugas sesuai peran masing-masing pembicara.

Saat debat berlangsung, mereka juga memanfaatkan kesempatan interupsi secara strategis untuk menguji argumentasi lawan pada momen penting.

Penyampaian pendapat yang terstruktur, jelas, dan tenang menjadi bagian dari upaya meyakinkan dewan juri.

Kombinasi antara persiapan matang, kekompakan tim, dan kemampuan menyusun argumentasi tersebut mengantarkan mahasiswa UIR meraih posisi tertinggi dalam kompetisi.

Capaian ini sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa Fakultas Hukum UIR bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pendampingan Assoc. Prof. Dr. Zulkarnaini Umar, S.H., S.Ag., M.I.S., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Hukum UIR.

Prestasi ini menjadi capaian bagi tim mahasiswa sekaligus menambah rekam jejak kegiatan kemahasiswaan Fakultas Hukum UIR, khususnya dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis, riset, komunikasi, dan argumentasi hukum melalui kompetisi debat. (*)

Share to: