Laboran UIN Suska Riau Raih Juara 3 Hackathon FAO dan Penghargaan Best Ambassador di Abu Dhabi
Sigit Sepriadi, laboran sekaligus peneliti Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau, terpilih sebagai satu-satunya delegasi Indonesia dalam program YALAFAST Cohort 2 yang didanai penuh oleh FAO.

RINGKASAN BERITA:
- Sigit terpilih dari ribuan pelamar untuk mengikuti program kepemimpinan agrifood FAO di Abu Dhabi.
- Inovasi sirkular raih Juara 3. Tim Ma’mango mengembangkan solusi pengurangan kehilangan pascapanen mangga melalui teknologi pendingin surya dan pemanfaatan limbah pertanian.
- Sigit mendapat penghargaan atas diplomasi budaya dengan mengenakan busana adat Melayu Riau dan Batik Nusantara selama kegiatan.
RIAUCERDAS, PEKANBARU – Tenaga kependidikan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional melalui prestasi Sigit Sepriadi.
Laboran sekaligus peneliti Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) tersebut terpilih sebagai satu-satunya delegasi Indonesia dalam program kepemimpinan muda bidang agrifood yang diselenggarakan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Sigit mengikuti Youth Action Leadership for Agrifood Systems Transformation (YALAFAST) Cohort 2 melalui skema pendanaan penuh (fully funded).
Program yang berlangsung pada 5–9 Oktober 2026 itu diselenggarakan FAO melalui FAO Subregional Office for the GCC States and Yemen (SNG), bertepatan dengan Global Food Security Summit dan Global Food Week 2026.
YALAFAST Cohort 2 mempertemukan 70 peserta terpilih dari 55 negara. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintahan, sektor swasta, akademisi, hingga kelompok masyarakat sipil.
Program ini berfokus pada pengembangan kepemimpinan muda serta pemanfaatan teknologi, inovasi digital, dan kecerdasan buatan untuk mendorong sistem pangan dan pertanian yang lebih inklusif serta berkelanjutan.
Salah satu agenda utamanya adalah hackathon untuk merancang model bisnis terapan dalam menjawab tantangan sektor agrifood.
Dalam kegiatan tersebut, Sigit bergabung dengan tim internasional bernama Ma’mango yang berhasil meraih posisi ketiga melalui gagasan pengembangan rantai nilai pertanian sirkular untuk mengurangi kehilangan hasil pascapanen (post-harvest loss) mangga di Senegal.
Solusi tim Ma’mango menggabungkan sistem rantai pendingin hemat energi berbasis tenaga surya, manajemen mutu terpadu, serta pemanfaatan kembali limbah pertanian menjadi biopolimer yang membantu mempertahankan kelembapan tanah.
Limbah hortikultura, termasuk mangga, juga berpotensi diolah menjadi bahan pakan ternak fungsional.
Gagasan tersebut mengedepankan pendekatan ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pertanian agar memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi limbah.
Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan sistem pangan yang memperhatikan efisiensi sumber daya dan kelestarian lingkungan.
Menurut Sigit, tantangan krisis pangan dan kelestarian lingkungan global membutuhkan solusi nyata dari Hulu ke Hilir. Di forum YALAFAST, dia membagikan bagaimana potensi dan tantangan pengelolaan pertanian/peternakan di Indonesia, khususnya peran riset laboratorium.
“Dari meja pengujian laboratorium, kita memahami bahwa limbah dan produk sampingan pertanian memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola dengan pendekatan circular economy dan teknologi yang tepat. Selain berpotensi dikembangkan menjadi pakan ternak fungsional, pemanfaatan limbah menjadi biopolimer tanah seperti yang kami rumuskan di YALAFAST membuktikan luasnya spektrum solusi dari riset laboratorium,” terang Sigit.
Di lingkungan UIN Suska Riau, Sigit bertugas sebagai Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP/Laboran) Ahli dan aktif melakukan penelitian di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan, FPP.
Ia juga terlibat sebagai peer reviewer jurnal dan prosiding nasional maupun internasional, pengajar atau tutor di bidang agribisnis dan teknologi pangan, serta memiliki keahlian dalam penerapan standar laboratorium ISO/IEC 17025.
Kenalkan Budaya Melayu Riau
Selain berkontribusi dalam perumusan inovasi pangan, Sigit turut memperkenalkan identitas budaya Indonesia selama mengikuti rangkaian kegiatan YALAFAST.
Ia konsisten mengenakan busana adat Melayu Riau lengkap serta Batik Nusantara, mulai dari pembukaan Global Food Security Summit hingga kunjungan lapangan ke lokasi inovasi agrifood di Uni Emirat Arab.
Upaya diplomasi budaya tersebut mengantarkannya meraih penghargaan individu Best Ambassador. Panitia menilai penampilan budaya yang dibawanya mampu menjadi jembatan komunikasi antarbudaya di tengah keberagaman peserta dari berbagai negara.
Penghargaan ini melengkapi capaian Sigit bersama tim Ma’mango. Partisipasinya memperlihatkan bahwa tenaga kependidikan perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengelolaan operasional laboratorium, tetapi juga dapat berkontribusi dalam riset terapan, pengembangan solusi pangan, dan kerja sama internasional.
Program YALAFAST sendiri menempatkan generasi muda sebagai penggerak perubahan dalam transformasi sistem agrifood. Keterlibatan Sigit menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman dan perspektif riset Indonesia ke forum global sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas negara.
Sekembalinya ke Indonesia, Sigit berkomitmen memanfaatkan jejaring internasional yang diperoleh untuk memperkuat riset biokonversi limbah pertanian, integrasi teknologi pengujian, serta penerapan standar akreditasi ISO/IEC 17025 di Laboratorium Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau.
Langkah tersebut diharapkan mendukung pengembangan riset terapan dan memperkuat kontribusi tenaga kependidikan dalam mendorong internasionalisasi serta reputasi global UIN Suska Riau. (*)
