Orang Tua Pernah Kena Kanker, Apakah Anak Berisiko Mengalami Hal Serupa?

Riwayat kanker dalam keluarga tidak berarti anak pasti terkena penyakit serupa. Dosen IPB menjelaskan pewarisan mutasi gen dan kapan pemeriksaan genetik perlu dipertimbangkan.

Ilustrasi. (Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Kanker tidak diwariskan secara langsung, tetapi mutasi gen tertentu yang meningkatkan kerentanan terhadap kanker dapat diturunkan.
  • Peluang 50 persen mewarisi mutasi gen tidak sama dengan risiko 50 persen terkena kanker.
  • Konseling dan pemeriksaan genetik dapat dipertimbangkan jika terdapat riwayat kanker pada usia muda, kanker langka, atau pola kanker tertentu dalam keluarga.

RIAUCERDAS – Memiliki orang tua yang pernah didiagnosis kanker tidak otomatis membuat seorang anak mengalami penyakit yang sama.

Risiko kanker dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kemungkinan mewarisi mutasi gen tertentu yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tersebut.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, menjelaskan bahwa kanker tidak diwariskan secara langsung dari orang tua kepada anak.

Hal yang dapat diturunkan adalah perubahan atau mutasi gen tertentu yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.

“Sebetulnya yang diturunkan bukan kankernya, tetapi gennya. Mutasi pada gen tertentu menyebabkan seseorang memiliki kerentanan untuk mengalami kanker,” terangnya dikutip dari laman IPB University, Sabtu (24/10/2026).

Berdasarkan penyebab genetiknya, kanker dapat dibedakan menjadi kanker herediter yang berkaitan dengan mutasi gen bawaan, kanker familial yang cenderung muncul dalam keluarga, serta kanker sporadis yang tidak berkaitan dengan mutasi gen warisan.

Perbedaan tersebut penting dipahami agar riwayat kanker dalam keluarga tidak langsung dianggap sebagai kepastian bahwa anggota keluarga lainnya akan mengalami penyakit serupa.

Menurut dr Gilang, apabila salah satu orang tua membawa mutasi gen tertentu, setiap anak memiliki peluang 50 persen untuk mewarisi mutasi tersebut. Namun, angka itu tidak berarti anak memiliki risiko 50 persen untuk terkena kanker.

Ia mencontohkan BRCA1, salah satu gen penekan tumor (tumor suppressor gene) yang berperan membantu memperbaiki DNA yang rusak.

“Di dalam tubuh ada dua salinan BRCA1. Jika salah satunya mengalami mutasi, salinan lainnya masih dapat membantu memperbaiki DNA yang rusak. Jadi, mewarisi mutasi gen tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker,” ujarnya.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa pewarisan mutasi gen dan munculnya kanker merupakan dua hal berbeda. Seseorang dapat membawa mutasi yang meningkatkan kerentanan terhadap kanker tanpa berarti pasti akan mengalami penyakit tersebut.

Hal serupa berlaku pada kanker ginjal. Orang tua yang memiliki riwayat kanker ginjal tidak otomatis menurunkan penyakit yang sama kepada anaknya.

“Penilaian risiko perlu mempertimbangkan usia saat diagnosis, pola kanker dalam keluarga, serta kemungkinan adanya kelainan genetik tertentu,” kata dr Gilang.

Riwayat kanker dalam keluarga perlu ditelusuri lebih lanjut apabila terdapat pola tertentu yang dapat mengindikasikan faktor genetik.

Dr Gilang menyebut sejumlah kondisi yang patut diwaspadai, antara lain; kanker terdiagnosis pada usia relatif muda, seseorang mengalami lebih dari satu jenis kanker, kanker yang dialami tergolong langka, terdapat tiga atau lebih anggota keluarga sedarah dengan jenis kanker yang sama atau berkaitan.

Konseling atau pemeriksaan genetik juga dapat dipertimbangkan ketika anggota keluarga inti didiagnosis kanker sebelum usia 50 tahun atau keluarga diketahui memiliki mutasi gen bawaan tertentu.

Meski demikian, keputusan untuk menjalani pemeriksaan perlu mempertimbangkan riwayat medis dan kondisi keluarga, bukan hanya berdasarkan kekhawatiran terhadap kanker.

Dr Gilang menjelaskan, pemeriksaan genetik idealnya diprioritaskan kepada anggota keluarga yang pernah atau sedang menderita kanker.

Jika pemeriksaan pada orang tersebut menemukan mutasi gen bawaan, anggota keluarga yang sehat dapat menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.

“Prioritas pertama pemeriksaan dilakukan pada orang yang pernah atau sedang menderita kanker. Anggota keluarga yang sehat baru diperiksa setelah tes pada anggota keluarga yang sakit menunjukkan adanya mutasi gen,” ungkap dia.

Pendekatan ini membantu tenaga medis menilai apakah kanker dalam keluarga berkaitan dengan mutasi gen yang dapat diwariskan.

Hasilnya juga dapat menjadi dasar untuk menentukan anggota keluarga yang perlu menjalani pemeriksaan serta memahami tingkat risiko masing-masing.

Dengan demikian, riwayat kanker pada orang tua bukan alasan untuk langsung menganggap anak akan mengalami penyakit serupa.

Penelusuran riwayat keluarga dan konseling genetik dapat membantu memberikan gambaran risiko yang lebih tepat sehingga langkah selanjutnya dapat disesuaikan dengan kondisi setiap individu. (*)

Share to: