Mahasiswa Kukerta Fkp Unri Edukasi Warga Simalinyang Ubah Air Cucian Beras Jadi Pupuk Organik Cair

Mahasiswa Kukerta FKp Universitas Riau melatih 20 warga Desa Simalinyang mengolah air cucian beras menjadi pupuk organik cair ramah lingkungan.

Proses pelatihan mengolah air cucian beras menjadi pupuk organik cair ramah lingkungan yang digelar mahasiswa Kukerta Fakultas Keperawatan Unri bagi warga Desa Simalinyang, Minggu (11/10/2026) lalu. (Sumber: Tim Kukerta FKp Unri)

RINGKASAN BERITA:

  • Sebanyak 20 warga Desa Simalinyang belajar mengolah air cucian beras menjadi pupuk organik cair melalui praktik langsung.
  • Mahasiswa Unri menjelaskan cara fermentasi sekaligus mengingatkan bahwa pupuk ini hanya sebagai pelengkap pemupukan, bukan pengganti pupuk utama.
  • Program tersebut mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga untuk mendukung pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

RIAUCERDAS, KAMPAR – Air cucian beras yang kerap dibuang setelah memasak dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk organik cair (POC).

Potensi sederhana ini diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Khusus Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Riau (Unri) kepada 20 warga Desa Simalinyang, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar, melalui edukasi dan praktik pengolahan limbah rumah tangga.

Kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Air Cucian Beras sebagai Pupuk Alami” tersebut dilaksanakan pada Minggu (11/10/2026) di posko Kukerta Unri, Dusun II Kampung Baru, Desa Simalinyang.

Peserta berasal dari kalangan ibu rumah tangga, anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), petani, serta warga yang memiliki kegiatan berkebun.

Program ini dijalankan Kelompok 15 Kukerta Berdampak Khusus FKp Unri Tahun 2026 yang beranggotakan 10 mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Ns. Herlina, M.Kep., Sp.Kep.Kom.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian bertema “Membangun Kampung Sehat, Inovatif, dan Berkelanjutan” di Kabupaten Kampar.

Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan bahwa air cucian beras masih mengandung sejumlah zat, seperti nitrogen, fosfor, kalium dalam jumlah kecil, vitamin B, pati, gula, dan mineral. Kandungan tersebut berpotensi mendukung aktivitas mikroorganisme di tanah yang berperan dalam membantu kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Meski demikian, mahasiswa turut memberikan pemahaman mengenai batas pemanfaatannya. Air cucian beras yang diolah menjadi POC dapat menjadi sumber nutrisi tambahan, tetapi belum terbukti secara ilmiah mampu membasmi hama, mempercepat pembungaan dan pembuahan, ataupun menggantikan seluruh kebutuhan pupuk tanaman.

Karena itu, warga diarahkan untuk menggunakan POC sebagai pendamping pemupukan, bukan sebagai satu-satunya sumber nutrisi bagi tanaman.

Setelah sesi edukasi, peserta diajak membuat pupuk secara langsung menggunakan bahan dan peralatan sederhana yang mudah ditemukan di rumah.

Perlengkapan yang digunakan antara lain botol bekas, saringan, corong, air cucian beras, serta gula merah sebagai bahan tambahan opsional.

Dalam praktik tersebut, air cucian beras ditampung dan dimasukkan ke dalam botol, kemudian dapat dicampur dengan gula merah sebelum difermentasi. Botol disimpan di tempat teduh dengan tutup yang tidak terlalu rapat selama tiga hingga tujuh hari.

Tutup perlu dibuka secara berkala untuk melepaskan gas yang terbentuk selama fermentasi.

Mahasiswa juga menerangkan ciri hasil fermentasi yang perlu diperhatikan. Aroma asam segar menyerupai tape dapat menjadi salah satu indikator fermentasi berlangsung, sedangkan bau busuk menyengat, lendir, atau pertumbuhan jamur menjadi tanda agar hasilnya dibuang.

POC yang telah selesai difermentasi perlu diencerkan dengan air sebelum digunakan, terutama untuk penyiraman tanah di sekitar tanaman.

Warga juga diingatkan agar menggunakan air cucian beras yang bersih, tidak tercampur sabun maupun garam, serta menghindari pemakaian berlebihan yang berpotensi menimbulkan bau, pertumbuhan jamur, dan mengundang lalat.

Ketua Kelompok 15, Kevin Elim Bungaran, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan warga dalam mengolah bahan sisa rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Program pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), tuturnya, dipilih untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Simalinyang dalam memanfaatkan air cucian beras sebagai bahan pupuk organik.

“Program ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tanaman, mengurangi limbah, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya dalam rilis tertulis, Rabu (28/10/2026).

Menurut Kevin, penggunaan bahan yang tersedia di lingkungan rumah diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk menerapkan praktik pemanfaatan limbah secara sederhana.

Dengan pengetahuan yang diperoleh, warga diharapkan dapat mencoba mengolah air cucian beras sebagai bahan pendukung pemupukan tanaman.

Antusiasme juga disampaikan Ketua PKK Desa Simalinyang, Asni. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi warga karena memanfaatkan bahan yang mudah dijumpai dalam aktivitas sehari-hari.

“Bagus ya program ini karena bahannya mudah ditemukan di rumah dan kegiatannya juga menambah pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara mengolah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang berguna dan ramah lingkungan,” katanya.

Setelah praktik selesai, setiap peserta membawa pulang botol berisi bahan hasil pembuatan POC untuk melanjutkan proses fermentasi di rumah. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab mengenai pengolahan dan pemanfaatan pupuk tersebut.

Program edukasi ini juga berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 12, yaitu menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Melalui pemanfaatan kembali air cucian beras, mahasiswa Kukerta Unri mendorong warga untuk lebih bijak mengelola limbah rumah tangga sekaligus mengenalkan praktik sederhana yang mendukung pertanian ramah lingkungan. (*)

Share to: