Kemenag Bekali Santri Keterampilan Digital Lewat Program Santri Matic, Apakah Itu?
Program Santri Matic di Solo membekali santri keterampilan pemasaran digital, pembuatan konten, dan pemanfaatan marketplace untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.

RINGKASAN BERITA:
- Santri Matic memberikan pelatihan marketplace, promosi digital, ShopeeFood, afiliasi, hingga pembuatan konten video.
- Kemenag mencatat sekitar 4.000 pesantren memiliki Balai Latihan Kerja dan sekitar 800 SMK berbasis pesantren.
- Program ini diarahkan agar santri tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
RIAUCERDAS, SOLO – Penguatan keterampilan teknologi dan kewirausahaan mulai didorong sebagai bagian dari upaya memperluas kemandirian ekonomi santri.
Melalui program Santri Matic (Santri Melek Teknologi), Kementerian Agama membekali peserta dengan kemampuan praktis agar dapat memanfaatkan peluang usaha digital sekaligus menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Program tersebut dibuka Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Sabtu (31/10/2026).
Santri Matic merupakan hasil kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Agama, dan Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta.
Pelaksanaannya juga melibatkan Shopee Indonesia sebagai mitra dalam penguatan keterampilan ekonomi digital.Dalam sambutannya, Basnang mengatakan santri telah memiliki modal karakter dan kemampuan sosial yang kuat melalui pendidikan pesantren.
Karena itu, peningkatan keterampilan praktis, terutama dalam pemanfaatan teknologi, perlu menjadi perhatian agar mereka mampu mengambil bagian dalam perkembangan ekonomi digital.
“Santri itu soft skill-nya sudah kuat, santri tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan perdagangan elektronik.” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan memahami perkembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguasaan ilmu keagamaan yang selama ini menjadi bagian penting pendidikan pesantren.
“Kita ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman,” tutur Basnang.
Menurutnya, modernisasi keterampilan tidak berarti mengubah identitas pesantren. Penguasaan teknologi justru diharapkan memperluas kemampuan santri tanpa menghilangkan nilai agama dan karakter yang telah dibangun melalui pendidikan di lingkungan pesantren.
“Prinsipnya sederhana, santri harus kuat dalam ilmu agama, unggul dalam ilmu pengetahuan, cakap dalam teknologi, mandiri dalam ekonomi, dan mulia dalam akhlak,” terangnya.
Basnang juga melihat pesantren memiliki fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pelatihan keterampilan. Ia menyebut keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) di lingkungan pesantren serta SMK berbasis pesantren sebagai modal untuk mengembangkan kompetensi santri.
Meski demikian, ia mengakui belum seluruh BLK pesantren berjalan optimal. Karena itu, ia mendorong keterlibatan kementerian dan lembaga lain agar fasilitas yang tersedia dapat kembali dimanfaatkan secara maksimal.
“Berdasarkan data Kemenag, sekitar 4.000 pesantren memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) dan sekitar 800 SMK berbasis pesantren. Fasilitas itu dapat dipakai untuk pelatihan fesyen, membatik, hingga pembuatan mesin” ungkap Basnang.
Dalam pelaksanaannya, materi Santri Matic mencakup sejumlah keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan digital.
Peserta diperkenalkan dengan penggunaan Shopee Marketplace, strategi promosi, layanan ShopeeFood, program afiliasi, hingga produksi konten video.
Pelatihan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam memasarkan produk secara daring. Lebih jauh, program ini diharapkan dapat membangun ekosistem kewirausahaan digital di lingkungan pesantren sehingga santri memiliki peluang mengembangkan usaha secara mandiri.
“Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja,” ungkap dia.
Selain keterampilan teknis, Basnang mengingatkan pentingnya etika dalam menjalankan kegiatan ekonomi berbasis teknologi. Menurutnya, santri harus tetap menjadikan kejujuran, amanah, tanggung jawab, profesionalitas, dan keadilan sebagai prinsip dalam berusaha.
Melalui Santri Matic, penguatan pendidikan pesantren diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan agama yang baik, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan ekonomi.
Kolaborasi lintas lembaga menjadi salah satu upaya untuk memperluas kesempatan santri dalam mengembangkan keterampilan, membangun usaha, dan berkontribusi bagi masyarakat. (*)
