PPSN VI Jadi Ruang Temu Santri Nusantara, Belajar Indonesia dari Teman Sebaya

PPSN VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Kabupaten Malang, menjadi ruang pertemuan santri dari berbagai penjuru Indonesia. Selain mengikuti kegiatan kepramukaan, para peserta mendapat pengalaman mengenal budaya, bahasa, kebiasaan dan kehidupan pesantren dari teman sebaya.

Sejumlah santri yang mengikuti Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di kompleks Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Santri dari berbagai daerah bertemu di PPSN VI, membangun pertemanan sekaligus berbagi cerita dan pengalaman.
  • Interaksi antarpeserta menjadi sarana mengenal budaya dan bahasa Nusantara, termasuk bagi santri yang belum pernah mengunjungi daerah lain secara langsung.
  • PPSN VI menjadi ruang belajar di luar kegiatan kepramukaan, termasuk mengenai pelestarian alam, kehidupan pesantren dan keberagaman Indonesia.

RIAUCERDAS, MALANG – Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di kompleks Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak sekadar menjadi tempat berkegiatan dan berkemah bagi para santri.

Di antara deretan tenda yang memenuhi kompleks pesantren, para santri dari berbagai daerah di Indonesia bertemu dan berinteraksi. Mereka berbagi cerita, mengenal bahasa serta kebiasaan daerah lain, hingga membangun pertemanan baru.

Bagi sejumlah peserta, pengalaman tersebut menjadi cara untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat melalui teman sebaya yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Salah satunya dirasakan Subhan Hanafi, peserta dari kontingen Sulawesi Barat. Selama empat hari mengikuti PPSN VI, ia mengaku telah bertemu banyak santri dari berbagai daerah.

“Saya sudah 4 hari di sini, Alhamdulillah sudah kenal banyak. Ada yang dari Papua, Kalimantan, Jawa dan juga Sumatera,” ungkapnya, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Hanafi, pertemuan dengan peserta dari berbagai daerah membuat dirinya tidak hanya mendapatkan teman baru, tetapi juga mengenal bahasa dan logat daerah lain.

“Di sini kita bisa saling kenal dengan berbagai daerah, bisa belajar bahasa-bahasa juga. Saya sudah bisa logat jawa sedikit,” ucapnya sambil tertawa.

Ia kemudian mencoba mengucapkan bahasa Jawa yang dipelajarinya selama berada di perkemahan.

“Ora popo,” ucapnya yang langsung disambut tawa bersama.

Bagi Hanafi, pengalaman tersebut membuat PPSN VI lebih dari sekadar kegiatan kepramukaan. Ia bisa mengenal adat dan budaya dari provinsi lain melalui interaksi langsung dengan para peserta.

“Di sini saya bisa mengetahui adat-adat dari provinisi lain,” ucapnya.

Bertemu Teman dari Berbagai Daerah

Pengalaman serupa dirasakan Mutianil Yasmin, peserta putri asal Pesantren Sunan Padanaran, Sleman.

Ia menilai PPSN VI memberikan banyak pengalaman baru, terutama kesempatan berinteraksi dengan santri dari berbagai wilayah Indonesia.

“Salah satunya kami bisa bertemu teman-teman dari berbagai penjuru Indonesia. Kami bisa mengenal budaya dan bahasa dari daerah lain, dan tentunya bisa bersosialisasi lebih dekat dengan mereka,” Ungkap Yasmin.

Selain mengenal budaya dan bahasa, Yasmin juga mendapatkan pembelajaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Kami juga mendapatkan banyak pelajaran, termasuk tentang pelestarian alam. Kami belajar bahwa sebagai manusia harus senantiasa menjaga dan melestarikan alam. Sebagai anak Pramuka, tentu ini menjadi hal yang penting,” terangnya.

Teman satu pesantren Yasmin, Madina, juga merasakan manfaat serupa. Ia mengaku beruntung dapat mengikuti PPSN VI di Kabupaten Malang setelah sebelumnya baru saja mengikuti jambore tingkat provinsi.

Kesempatan bertemu santri dari berbagai daerah pun dimanfaatkannya untuk memperluas pertemanan.

“Kami sudah mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah. Rasanya satu RW (Komplek Tenda) pun sudah kami kenal semua. Kami asyik saja, karena mumpung bertemu teman-teman dari berbagai daerah,” celotehnya.

Mengenal Indonesia

Cerita lain datang dari Keiysa Aliya Putri, santri Daar el-Qolam 3, Banten. Meski belum mengunjungi berbagai daerah secara langsung, ia merasa dapat mengenal Indonesia melalui teman-teman yang ditemuinya di PPSN VI.

“Kita emang belum nyamperin kotanya. Tapi dari orang-orangnya aja, mereka tuh udah bisa tahu, kayak ngenalin budaya mereka ke kita. Jadi bikin kita kayak, oh jadi NTB tuh kayak gini ya. Kami jadi lebih mengenal Indonesia di sini. Jadi secara tidak langsung kita sudah mengetahui budaya-budaya di Indonesia ini secara keseluruhan,” ucapnya.

Keisya berharap pengalaman di PPSN VI menjadi langkah awal untuk suatu hari dapat mengunjungi daerah-daerah tersebut secara langsung.

“Semoga bisa tahu langsung dari kotanya ya ka,” harapnya.

Beragam latar belakang peserta membuat suasana PPSN VI menjadi ruang perjumpaan antarsantri. Ada yang berasal dari pesantren di kawasan perkotaan, ada pula yang datang dari daerah dengan lingkungan dan kebiasaan yang berbeda.

Perbedaan bahasa, budaya, kebiasaan, serta pengalaman tidak menjadi penghalang. Di perkemahan tersebut, para peserta bertemu dalam identitas yang sama sebagai santri Indonesia.

Interaksi antarpeserta juga menjadi bagian dari proses belajar. Selain memperoleh pengetahuan dari pembina maupun narasumber, para santri dapat belajar dari pengalaman peserta lain, mulai dari pengelolaan kegiatan pesantren, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan hingga aktivitas kepramukaan.

Bagi mereka, PPSN VI menjadi cara lain untuk memahami Indonesia. Nusantara tidak lagi hanya dipandang sebagai kumpulan pulau dan provinsi, tetapi hadir melalui wajah-wajah baru yang mereka temui, ajak berbicara dan kemudian menjadi sahabat. (*)

Share to: