SMAN 16 Pekanbaru Jalani Pendampingan Keempat Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan Kecerdasan Artifisial

SMAN 16 Pekanbaru menjalani pendampingan keempat dari BGTK Riau untuk memperkuat kompetensi guru dalam Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial.

Suasana pendampingan sebagai sekolah model Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial di SMAN 16 Pekanbaru, Senin (19/10/2026). (Sumber: Istimewa)

RINGKASAN BERITA:

  • SMAN 16 Pekanbaru telah menjalani empat dari enam tahap pendampingan sebagai sekolah model Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial.
  • Metode Teacher Experimental Training (TET) mendorong guru mempraktikkan materi pelatihan secara langsung di kelas untuk mengatasi persoalan pembelajaran.
  • Dari lima sekolah model yang ditetapkan di Provinsi Riau, SMAN 16 Pekanbaru diharapkan menjadi rujukan bagi sekolah lain.

RIAUCERDAS, PEKANBARU – SMAN 16 Pekanbaru dipersiapkan menjadi rujukan penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding Kecerdasan Artifisial (KKA) melalui rangkaian pendampingan intensif bagi tenaga pendidik.

Program yang didampingi Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau tersebut kini memasuki tahap keempat dari enam sesi yang direncanakan hingga Desember.

Pendampingan yang berlangsung pada Senin (19/10/2026) itu menyasar guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Program tersebut merupakan bagian dari penugasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI kepada SMAN 16 Pekanbaru sebagai sekolah model PM dan KKA.

Narasumber BGTK Riau, Ahmad Naufal Umam, M.Pd menjelaskan bahwa pendampingan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik dan pengelola sekolah agar mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, berorientasi pada kebutuhan murid, serta mendukung peningkatan hasil belajar.

“Ini pendampingan ke-4 dari 6 pendampingan BGTK Riau untuk guru SMAN 16 Pekanbaru. Pendampingan ini harus kita lakukan terhadap Sekolah Model PM dan KKA yang ditunjuk Kementerian Dikdasmen RI,” ujar Umam .

Pada sesi keempat, materi yang dibahas berfokus pada peningkatan kapasitas pendidik dan kepala sekolah melalui pendekatan Teacher Experimental Training (TET) dan Inkuiri Kolaboratif (IK).

Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk menghubungkan pelatihan dengan persoalan nyata yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar.

Umam menerangkan, pelatihan guru perlu memberikan ruang bagi peserta untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara langsung di kelas.

Dengan cara tersebut, proses pengembangan kompetensi tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diarahkan untuk menjawab tantangan pembelajaran yang dihadapi siswa dan guru.

“Tapi dengan TET apa yang didapatkan di pelatihan bisa di implementasi langsung dikelas sehingga memecahkan permasalahan,” terangnya.

Ia menjelaskan, TET merupakan pendekatan pelatihan yang memungkinkan guru mempraktikkan langsung materi yang dipelajari dalam pembelajaran di kelas, bukan melalui simulasi microteaching.

Sementara itu, setiap sesi pendampingan dari tahap pertama hingga keenam memiliki topik yang berbeda.

Pelaksanaan pendampingan berlangsung secara bertahap dengan jarak sekitar satu bulan antarsesi.

BGTK Riau menargetkan seluruh rangkaian kegiatan dapat diselesaikan pada Desember, sehingga SMAN 16 Pekanbaru siap menjalankan perannya sebagai sekolah model penerapan PM dan KKA.

Kepala SMAN 16 Pekanbaru, Dr. Hj. Nurhafni, M.Pd., mengatakan bahwa status sekolah model yang diberikan Kemendikdasmen RI disertai kewajiban mengikuti program pendampingan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi tenaga pendidik dan jajaran manajemen sekolah untuk meningkatkan kompetensi dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang ditetapkan.

“Setelah kita ditetapkan sebagai Sekolah Model harus ada pendampingan. Hingga kini sudah masuk pendampingan ke-4 yang kita terima dari BGTK Riau. Ada 6 pendampingan sampai Desember nanti,” tutur Nurhafni.

Ia mengungkapkan, penunjukan SMAN 16 Pekanbaru sebagai sekolah model diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas daripada peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah sendiri.

“Jadi pendampingan ini salah satu meningkatkan kompetensi para guru, kepala sekolah sehingga ketika ada sekolah lain menanyakan tentang PM dan KKA rujukannya ya SMAN 16 Pekanbaru,” kata dia.

Nurhafni juga menyebutkan bahwa Provinsi Riau memiliki lima sekolah yang ditetapkan sebagai sekolah model PM dan KKA oleh Kemendikdasmen RI.

Melalui penyelesaian enam tahap pendampingan tersebut, SMAN 16 Pekanbaru diharapkan mampu menerapkan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial secara lebih efektif, sekaligus menjadi tempat rujukan bagi sekolah lain yang ingin mengembangkan pendekatan serupa. (*)

Share to: