98 Persen Posyandu Pekanbaru Jalankan 6 SPM, Pemko Perkuat Sistem Pelaporan Kader

Sebanyak 98 persen dari 650 Posyandu di Pekanbaru telah menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal. Pemko kini memperkuat sistem pelaporan agar kebutuhan warga yang ditemukan kader dapat lebih cepat ditindaklanjuti.

Suasana launching penginputan Posyandu 6 SPM yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Pekanbaru, Kamis (1/10/2026). (Sumber: Prokopim Pekanbaru)
  • Dari 650 Posyandu di Pekanbaru, sekitar 98 persen telah melaksanakan enam Standar Pelayanan Minimal.
  • Data dari kader dapat dipantau camat dan lurah serta direncanakan terintegrasi dengan aplikasi Pekanbaru Aman.
  • Penyaluran 200 paket alat dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi kebutuhan Posyandu pada awal tahun.

RIAUCERDAS, PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru memperkuat mekanisme pelaporan Posyandu agar informasi mengenai kebutuhan masyarakat dari lapangan dapat lebih cepat diterima dan ditindaklanjuti.

Langkah ini dilakukan setelah sekitar 98 persen dari total 650 Posyandu di Pekanbaru telah menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Penguatan sistem tersebut ditandai dengan launching penginputan Posyandu 6 SPM yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Pekanbaru, Kamis (1/10/2026).

Melalui mekanisme pelaporan, kader Posyandu dapat memasukkan berbagai masukan maupun kebutuhan masyarakat yang ditemukan selama menjalankan pelayanan.

Ketua Tim Penggerak (TP) Posyandu Pekanbaru, Sulastri, mengatakan transformasi Posyandu kini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pelayanan.

Sistem penyampaian informasi dari kader juga diperkuat agar kebutuhan warga dapat diketahui pemerintah secara lebih cepat.

“Semua masukan dari warga sesuai dengan SPM. Sekarang, Posyandu sudah bertransformasi menjadi enam SPM. Sistem ini nantinya memudahkan kader dalam melaporkan berbagai masukan dari masyarakat,” ujar Sulastri.

Informasi yang dimasukkan kader nantinya dapat dipantau oleh camat dan lurah.

Dengan mekanisme tersebut, pemerintah dapat memperoleh pembaruan data mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat dari tingkat lapangan.

“Artinya, dengan sistem ini, kami bisa langsung mengeksekusi setiap laporan yang ada di warga. Data juga bisa terus diperbarui dan dicek,” kata dia.

Berdasarkan pembaruan data TP Posyandu, sebanyak 98 persen dari 650 Posyandu di Pekanbaru telah melaksanakan enam SPM.

Meski demikian, capaian tersebut masih akan dievaluasi untuk memastikan penerapannya sesuai dengan ketentuan.

“Kami tidak ingin cepat merasa puas. Kami juga masih ragu apakah pelaksanaannya sudah benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu, akan terus kami perbarui dan evaluasi,” katanya.

Sistem pelaporan tersebut juga direncanakan terhubung dengan aplikasi Pekanbaru Aman.

Integrasi itu diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses pemantauan sekaligus penyampaian laporan Posyandu.

Penguatan pelayanan juga dilakukan melalui pemenuhan sarana.

TP Posyandu Pekanbaru menyerahkan 200 paket alat antropometri kepada 200 Posyandu.

Menurut Sulastri, penyaluran alat tersebut merupakan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada awal tahun.

Kegiatan itu dilakukan untuk memetakan kebutuhan sarana di masing-masing Posyandu.

“Hari ini, kami menyerahkan 200 paket alat antropometri untuk 200 Posyandu. Ini merupakan hasil monev yang kami lakukan di awal tahun untuk mengetahui apa saja kebutuhan Posyandu,” ucap Sulastri.

Pemenuhan fasilitas Posyandu tidak dilakukan sekaligus.

TP Posyandu dari tingkat kecamatan hingga kota akan terus mengumpulkan informasi dari para kader mengenai sarana dan bentuk dukungan yang masih diperlukan.

Dalam agenda yang sama, Dinas Ketahanan Pangan turut menyalurkan 300 bibit cabai kepada kelompok Dasa Wisma.

Bibit tersebut diarahkan untuk dikembangkan guna mendukung aktivitas sekitar 3.000 kelompok Dasa Wisma yang telah terbentuk di Pekanbaru.

“Kami berharap bibit ini bisa dikembangkan. Sehingga, ibu-ibu Dasa Wisma yang sudah kami bentuk bisa semakin aktif,” ucap Sulastri.

Selain program Posyandu dan Dasa Wisma, Sulastri juga meluncurkan gerakan literasi yang digagas Bunda Literasi Kota Pekanbaru bertajuk “Satu Buku Sejuta Harapan untuk Pekanbaru”.

Gerakan tersebut mengajak masyarakat berpartisipasi melalui sedekah buku. Buku yang terkumpul nantinya disimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Pekanbaru.

Camat dan lurah diminta ikut menyosialisasikan gerakan tersebut kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

Program ini diarahkan untuk mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Pekanbaru.

“Kami berharap Kota Pekanbaru bisa menjadi salah satu daerah yang unggul dalam budaya literasi dan kegemaran membaca,” beber Sulastri.

Ke depan, terdapat rencana agar organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, dan kelurahan memiliki perpustakaan atau pojok baca.

Fasilitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi di lingkungan pemerintahan dan masyarakat.

“Setiap OPD harus memiliki perpustakaan atau pojok baca. Begitu juga setiap kecamatan dan kelurahan. Ini menjadi bagian dari upaya pemerintah kota untuk membudayakan literasi di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Sulastri berharap rangkaian program tersebut dapat memperkuat kerja sama antara TP PKK, TP Posyandu, pemerintah daerah, kader, dan masyarakat dalam memberikan manfaat bagi warga.

“Semoga, semua bisa bekerja sama dan terus bersinergi untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga,” ujar Sulastri. (*)

Share to: