IMSO ke-23 Hadirkan Soal Lebih Sulit, Nalar 207 Matematikawan Muda Diuji
IMSO ke-23 resmi ditutup di Depok setelah mempertemukan 207 matematikawan muda dari 23 negara. Kompetisi tahun ini menghadirkan soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi untuk menguji penalaran, pemahaman konsep, dan kemampuan pemecahan masalah.

RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 207 matematikawan muda dari 23 negara mengikuti IMSO ke-23.
- Tingkat kesulitan soal matematika disebut lebih tinggi dibandingkan IMSO sebelumnya.
- Evaluasi juri menemukan peserta masih perlu memperkuat penerapan konsep sains dan pengolahan data.
RIAUCERDAS, DEPOK – International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 menutup rangkaian kompetisinya dengan catatan akademik yang cukup ketat.
Sebanyak 207 matematikawan muda dari 23 negara mengikuti rangkaian ujian yang dirancang untuk menguji penalaran, pemahaman konsep, hingga kemampuan memecahkan masalah secara kreatif.
Kompetisi tersebut resmi berakhir di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Depok, Jawa Barat, Selasa (6/10/2026).
Pada bidang matematika, peserta menghadapi tiga bagian ujian, yakni isian singkat, uraian, dan eksplorasi.
Materi tersebut disusun untuk mengukur kelancaran matematis sekaligus kemampuan peserta dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan penalaran dan pemahaman konseptual.
Komite Akademik Bidang Matematika mencatat rerata skor keseluruhan peserta tahun ini mencapai 24,43, sedangkan skor individu tertinggi berada di angka 65.
Tingkat kesulitan soal juga disebut jauh lebih tinggi dibandingkan IMSO sebelumnya.
Peningkatan tingkat kesulitan tersebut dirancang untuk mendorong peserta keluar dari zona nyaman dan menghadapi persoalan baru yang menantang.
Dengan demikian, capaian dalam kompetisi tidak hanya dilihat dari perolehan skor, tetapi juga dari proses peserta dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
Evaluasi akademik juga dilakukan pada bidang sains. Komite Akademik Bidang Sains menilai peserta secara umum telah memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai konsep.
Namun, masih ditemukan sejumlah bagian yang perlu diperkuat, terutama dalam memahami konsep dan penerapannya secara lebih luas.
Beberapa kekeliruan konsep yang ditemukan juri mencakup materi penyajian grafik, gravitasi dan percepatan, arus serta hambatan listrik, penguapan dan kondensasi, hingga perbedaan unsur, senyawa, dan campuran.
Pada tes eksperimen, kemampuan komunikasi dan kerja sama tim peserta mendapat apresiasi. Meski demikian, sebagian peserta masih lebih banyak mengandalkan pengamatan dibandingkan penerapan konsep ilmiah.
Peserta juga masih mengalami kesulitan dalam mengolah data menjadi grafik yang tepat.Di tengah evaluasi tersebut, juri menyebut IMSO ke-23 sebagai salah satu kompetisi yang paling ketat. Persaingan terlihat dari selisih nilai yang sangat tipis antara peserta yang meraih medali perak dan perunggu.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Didik Suhardi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti kompetisi tersebut. Ia menyebut para peserta telah mempersiapkan diri untuk tampil dan menjadi yang terbaik.
“Saya mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah meraih prestasi luar biasa dan medali emas. Bagi kami, seluruh peserta adalah anak-anak muda hebat yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik,” katanya.
Ketua Umum IMSO, Raden Ridwan Hasan Saputra, menilai pengalaman selama kompetisi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik.
Menurutnya, peserta juga menunjukkan sportivitas, ketangguhan, dan semangat persahabatan antarnegara.
“IMSO jauh lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah sebuah keluarga besar internasional yang dipersatukan oleh semangat penemuan dan rasa saling menghormati,” tutur Ridwan.
Selama enam hari pelaksanaan, peserta juga mengikuti seminar internasional, malam kebudayaan, dan wisata edukasi ke Taman Mini Indonesia Indah.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rangkaian IMSO ke-23 di luar kegiatan kompetisi akademik.
Para peserta kemudian didorong untuk menjadikan IMSO sebagai bagian dari proses evaluasi dalam perjalanan belajar matematika dan sains.
Pengalaman menghadapi soal yang lebih menantang diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat kemampuan pemecahan masalah dan menghadapi kompetisi berikutnya. (*)
