Riau Peringkat Pertama Nasional Imunisasi Kejar 2026, Cakupan Bayi Capai 15 Persen
Riau menjadi provinsi dengan cakupan imunisasi kejar tertinggi nasional untuk dua kelompok usia anak berdasarkan data Kemenkes RI per 19 Oktober 2026.

RINGKASAN BERITA:
- Riau mencatat cakupan imunisasi kejar 15 persen pada kelompok bayi di bawah 12 bulan dan 7 persen pada kelompok baduta usia 12–24 bulan.
- Plt Gubernur SF Hariyanto mengapresiasi tenaga kesehatan, kader posyandu, dan Dinas Kesehatan yang mendukung pencapaian tersebut.
- Pemprov Riau memperkuat pemantauan dan pencatatan harian melalui aplikasi ASIK untuk menjangkau anak yang belum mendapat imunisasi lengkap.
RIAUCERDAS, PEKANBARU – Provinsi Riau menempati peringkat pertama nasional dalam cakupan imunisasi kejar bagi dua kelompok usia anak pada pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan Bulan Imunisasi Kejar (BIK) 2026.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI per 19 Oktober 2026, Riau mencatat capaian 15 persen untuk kelompok bayi berusia di bawah 12 bulan dan 7 persen untuk anak bawah dua tahun (baduta).
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. Ia menilai keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama tenaga kesehatan, kader posyandu, serta jajaran Dinas Kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota dalam menjangkau anak-anak yang belum melengkapi imunisasinya.
“Capaian tertinggi nasional ini adalah bukti nyata komitmen kita bersama. Imunisasi adalah investasi masa depan anak Riau. Saya minta capaian ini jangan membuat kita lengah, justru harus dikebut sampai seluruh anak di Riau mendapatkan hak imunisasi lengkap,” kata Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, Sabtu (24/10/2026).
Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Riau menunjukkan, dari total sasaran 85.337 bayi berusia di bawah 12 bulan atau surviving infants, sebanyak 12.958 anak telah menerima sedikitnya satu dosis imunisasi yang sebelumnya terlewat.
Capaian tersebut setara dengan 15 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 4 persen.
Sementara itu, pada kelompok baduta berusia 12 hingga 24 bulan, terdapat 7.445 anak yang telah mendapatkan layanan imunisasi kejar dari total sasaran 84.382 anak.
Persentase cakupan sebesar 7 persen tersebut juga menempatkan Riau di posisi teratas nasional untuk kelompok usia ini.Sebagai perbandingan, provinsi lain yang mencatat persentase capaian tinggi pada kelompok bayi di bawah 12 bulan adalah Sulawesi Tenggara sebesar 7 persen dan DKI Jakarta sebesar 5 persen.
Secara nasional, program BIK telah menjangkau 134.850 bayi di atas usia 12 bulan serta 101.007 anak baduta yang belum memiliki status imunisasi lengkap.
Untuk mempertahankan capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Riau mengintensifkan pemantauan harian dan mingguan. Langkah ini ditujukan untuk mengidentifikasi daerah dengan cakupan imunisasi rendah sehingga tindakan perbaikan dapat segera dilakukan.
Pemprov Riau juga mewajibkan pencatatan data imunisasi setiap hari melalui aplikasi ASIK. Sistem pencatatan tersebut diharapkan membantu petugas mengidentifikasi anak yang belum melengkapi imunisasi dan mempercepat penjangkauan sasaran.
Upaya percepatan ini menjadi penting karena masih terdapat anak yang belum menerima imunisasi dasar lengkap.
Pemerintah daerah pun mendorong koordinasi berkelanjutan antara tenaga kesehatan, kader posyandu, dan instansi terkait agar pelayanan dapat menjangkau seluruh sasaran.
SF Hariyanto menegaskan bahwa imunisasi merupakan bagian penting dari upaya pencegahan penyakit menular sekaligus perlindungan kesehatan anak.
Pemprov Riau berkomitmen mendukung program imunisasi kejar untuk membantu mencegah penyakit seperti campak, rubella, difteri, dan polio, serta mendukung upaya penurunan stunting.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan kesehatan anak.
Karena itu, capaian nasional yang telah diraih perlu diikuti dengan upaya berkelanjutan agar semakin banyak anak memperoleh perlindungan melalui imunisasi sesuai kebutuhan dan jadwal yang dianjurkan.
“Anak yang sehat adalah fondasi Riau yang unggul. Dari Riau yang sehat, untuk Indonesia Emas 2045. Terus kejar, jangan ada satu anak pun tertinggal,” terangnya.
Percepatan imunisasi kejar diharapkan dapat memperluas perlindungan anak dari ancaman penyakit menular berbahaya.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa capaian tinggi bukan menjadi alasan untuk berhenti, melainkan dorongan untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan imunisasi yang dibutuhkan. (*)
