Wawako Pekanbaru Bekali Mahasiswa IPTAR dengan 5 Fondasi
Perkembangan AI, digitalisasi, perubahan lingkungan, ekonomi baru dan persaingan global disebut Wakil Wali Kota Markarius Anwar sebagai bagian dari perubahan yang berlangsung cepat. Karena itu, mahasiswa IPTAR diminta tidak takut terhadap perubahan, melainkan belajar menghadapinya.

RINGKASAN BERITA:
- Mahasiswa IPTAR diminta membangun lima fondasi, yaitu ilmu, karakter, kompetensi, karya, dan jejaring.
- Perubahan AI dan digitalisasi menjadi tantangan yang harus dihadapi mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi.
- Persoalan Kota Pekanbaru dapat menjadi ruang belajar dan kontribusi, termasuk isu transportasi, banjir, sampah, air minum, UMKM, dan lingkungan.
RIAUCERDAS, PEKANBARU – Mahasiswa baru Institut Pendidikan dan Teknologi ‘Aisyiyah Riau (IPTAR) diminta membangun lima fondasi selama menjalani pendidikan tinggi, yakni ilmu, karakter, kompetensi, karya, dan jejaring.
Bekal tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi mampu menghadapi perubahan dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar saat menghadiri Kuliah Umum dan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) IPTAR Tahun Akademik 2026/2027, Jumat (2/10/2026).
Menurut Markarius, memasuki dunia perguruan tinggi harus diikuti perubahan cara berpikir. Mahasiswa perlu belajar mandiri, berani menyampaikan pendapat, mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta mulai menentukan arah masa depannya.
“Karena itu, saya ingin mengajak adik-adik sekalian untuk tidak memandang kuliah hanya sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah. Kuliah adalah proses untuk mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebih siap memberi manfaat,” terang Markarius.
Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan tema PKKMB, yakni “Generasi Berkemajuan untuk Negeri dan Lingkungan”.
Menurutnya, generasi berkemajuan tidak hanya ditandai penguasaan ilmu, tetapi juga integritas, kemampuan beradaptasi, kerja sama, serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Perkembangan AI, digitalisasi, perubahan lingkungan, ekonomi baru dan persaingan global disebut Markarius sebagai bagian dari perubahan yang berlangsung cepat.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak takut terhadap perubahan, melainkan belajar menghadapinya.
“Dan yang tidak kalah penting adalah karakter. Adik-adik sekalian, Kota adalah laboratorium kehidupan. Persoalan kota bukan hanya persoalan pemerintah. Persoalan kota juga merupakan ruang belajar dan ruang kontribusi bagi generasi muda,” paparnya.
Markarius menyebut sejumlah persoalan yang dapat menjadi ruang pembelajaran mahasiswa di Pekanbaru, mulai dari kemacetan dan transportasi, banjir, sampah, air minum, ruang publik, UMKM dan lapangan kerja, hingga lingkungan.
“Saya berharap, mahasiswa tidak hanya melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang harus diselesaikan pemerintah. Tetapi lihatlah sebagai kesempatan untuk belajar dan berkontribusi. Artinya, bagaimana ilmu tersebut digunakan dan diwujudkan dalam karya dan pengabdian akan menjadi manfaat,” tutur Markarius.
Ia kemudian merangkum lima hal yang perlu dibangun mahasiswa selama kuliah. Pertama, ilmu dengan memahami bidang masing-masing.
Kedua, karakter dengan menjaga integritas. Ketiga, kompetensi dengan menguasai sesuatu secara serius.
Keempat, karya melalui hasil yang nyata. Kelima, jejaring dengan belajar bekerja bersama orang lain.
Markarius juga mengingatkan mahasiswa agar keberhasilan yang diraih nantinya tidak berhenti pada kepentingan pribadi.
Ia mendorong mahasiswa memiliki orientasi untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Saya ingin keberhasilan saya juga membawa manfaat bagi masyarakat. Itulah semangat generasi berkemajuan,” tandasnya. (*)
