Polusi Udara Memburuk, Waspada Risiko Sesak hingga Gangguan Organ
Paparan polusi udara dapat memperburuk keluhan pada penderita asma dan PPOK serta berdampak pada pembuluh darah, jantung, dan otak. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Prof. dr. Hardisman mengingatkan pentingnya mengurangi paparan dan segera mencari pertolongan ketika gangguan pernapasan memburuk.

RINGKASAN BERITA:
- Penderita asma dan PPOK berisiko mengalami keluhan yang lebih berat saat terpapar polusi udara.
- Dampak polusi tidak terbatas pada paru-paru, tetapi juga dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah, jantung, dan otak.
- Masker berfiltrasi tinggi seperti N95 dapat membantu mengurangi paparan partikel halus PM2.5.
RIAUCERDAS – Penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) perlu memberikan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Paparan polusi dapat memperparah keluhan pernapasan dan meningkatkan risiko serangan yang lebih berat pada kelompok tersebut.
Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. dr. Hardisman, M.HID., Dr.PH., FRSPH., mengatakan risiko paparan polusi tidak hanya berkaitan dengan saluran pernapasan.
Dampaknya juga dapat menjangkau pembuluh darah, jantung, dan otak.
Dia menjelaskan, tubuh memiliki mekanisme pertahanan ketika zat asing masuk melalui saluran pernapasan.
Salah satu respons awal yang muncul adalah iritasi berupa batuk.
Jika paparan berlangsung terus-menerus, keluhan tersebut dapat bertahan meskipun seseorang telah menjauh dari sumber pencemaran.
Ketika zat berbahaya masuk lebih jauh ke saluran pernapasan, kondisi tersebut dapat memicu sesak napas.
Pada penderita asma dan PPOK, paparan polusi udara menjadi perhatian karena dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.
Risiko serangan yang lebih berat juga dapat meningkat ketika kelompok tersebut terpapar udara tercemar.

Prof. Hardisman menjelaskan, polusi juga dapat memberikan dampak melalui gangguan pada pembuluh darah.
Paparan polutan dapat memicu proses fisiologis dan patofisiologis yang berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah serta pembentukan plak, yang kemudian berisiko terhadap kesehatan jantung dan otak.
Besarnya risiko yang diterima tubuh tidak hanya bergantung pada durasi seseorang terpapar. Konsentrasi dan jenis polutan serta kondisi kesehatan individu juga menjadi faktor yang memengaruhi dampaknya.
Jenis polutan dapat berbeda berdasarkan sumber pencemaran. Asap dari aktivitas industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dapat membawa kandungan zat yang berbeda, tergantung material yang terbakar dan tingkat kesempurnaan proses pembakaran.
Pembakaran yang tidak sempurna, misalnya, dapat menghasilkan karbon monoksida (CO).
Zat tersebut dapat mengganggu kemampuan hemoglobin membawa oksigen sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh dapat terhambat.
Dalam jangka panjang, paparan zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen juga dapat meningkatkan risiko kanker.
Untuk mengurangi paparan, Prof. Hardisman menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Namun, kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan karena polutan dari luar masih dapat masuk ke dalam ruangan.
Bila aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat dapat menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95.
Penggunaan masker tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, terutama PM2.5.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda gangguan akibat paparan udara buruk. Sesak napas, batuk berat, atau pusing menjadi keluhan yang perlu segera direspons dengan menjauhi sumber pencemaran dan mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
Jika gangguan pernapasan semakin berat, pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan perlu segera dicari.
Berpindah ke lokasi dengan udara lebih segar tidak selalu cukup apabila paparan telah mengganggu pernapasan dan pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.
Dia menegaskan, perlindungan dari polusi udara perlu mendapat perhatian lebih besar pada kelompok rentan, termasuk penderita asma dan PPOK.
“Mengenali risiko, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan ketika keluhan memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang menurun,” kata dia dikutip dari laman Unand. (*)
