Siswa MAN 1 Pekanbaru Raih Perunggu di IOAA 2026

Khalil Azyumardi Abnel dari MAN 1 Pekanbaru berhasil meraih medali perunggu pada International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 di Hanoi. Ia menjadi salah satu dari tiga murid Indonesia yang membawa pulang medali perunggu dari ajang tersebut.

Murid Indonesia yang menjadi delegasi pada ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 dan berhasil membawa pulang tiga medali perunggu, satu Honorable Mention, dan Winner of the Poster Competition
pada Senin (5/10/2026). (Sumber:Tim Puspresnas)

RINGKASAN BERITA:

  • Khalil Azyumardi Abnel dari MAN 1 Pekanbaru meraih medali perunggu IOAA 2026.
  • Delegasi Indonesia membawa pulang tiga perunggu, satu Honorable Mention dan satu penghargaan poster.
  • Lima delegasi Indonesia merupakan hasil pembinaan dan seleksi berjenjang dari Olimpiade Sains Nasional bidang Astronomi.

RIAUCERDAS, JAKARTA – Siswa MAN 1 Pekanbaru, Khalil Azyumardi Abnel, berhasil meraih medali perunggu dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 di Hanoi.

Capaian tersebut turut mengantarkan Indonesia meraih tiga medali perunggu pada kompetisi internasional bidang astronomi dan astrofisika tersebut.

Selain Khalil, dua medali perunggu lainnya diraih Muhammad Zhafif dari SMAS Kharisma Bangsa, Kota Tangerang Selatan, dan Yugo Deandra Wirayudha dari SMA Negeri 1 Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Delegasi Indonesia juga mencatat capaian lain melalui Muhammad Bagir dari SMA Negeri 8 Jakarta yang memperoleh Honorable Mention.

Sementara Muhammad Faiz Rahman dari SMAS Pesantren Unggul Al Bayan, Kabupaten Sukabumi, meraih Winner of the Poster Competition secara tim melalui karya berjudul “VGOS in SEA, and the FUTURE of HUMANKIND.”

IOAA 2026 merupakan kompetisi internasional bagi murid pendidikan menengah di bidang astronomi dan astrofisika.

Tahun ini, kegiatan dipusatkan di Phenikaa University, Hanoi, dan diikuti 320 peserta dari 66 negara.

Keberhasilan lima murid Indonesia tersebut merupakan bagian dari proses pembinaan talenta yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

Sebelum terpilih menjadi delegasi Indonesia, para murid mengikuti proses seleksi yang dimulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi.

Para pemenang kemudian menjalani pembinaan dan seleksi secara bertahap hingga terpilih lima murid yang mewakili Indonesia di IOAA 2026.

Kepala Puspresnas Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengapresiasi perjuangan seluruh delegasi Indonesia.

Menurutnya, capaian di tingkat internasional merupakan bagian dari proses panjang dalam pengembangan potensi murid.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia memiliki potensi untuk bersaing di tingkat dunia. Kemendikdasmen terus memperkuat pembinaan talenta secara berkelanjutan agar potensi tersebut dapat berkembang, berprestasi, dan pada saatnya memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” kata Kepala Puspresnas, Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono.

Salah satu delegasi, Muhammad Zhafif, mengatakan keikutsertaannya dalam IOAA menjadi pengalaman berharga karena tidak hanya berkompetisi, tetapi juga dapat membangun jejaring dengan murid dari berbagai negara.

“Ajang tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Selain berkompetisi, kami membangun jejaring dengan murid dari seluruh dunia,” tutur Zhafif.

Menurut Zhafif, perjalanan sejak mengikuti OSN hingga tampil di kompetisi internasional turut memberikan pengalaman dan membantu pembentukan karakter.

“Prestasi di OSN tentunya merupakan sebuah privilege. Perjalanan panjang yang saya lalui, mulai dari mengikuti OSN hingga meraih prestasi di ajang internasional, tidak hanya memberikan banyak ilmu dan pengalaman, tetapi juga sangat membantu dalam membentuk karakter saya,” ujar Zhafif.

Hal senada disampaikan Yugo Deandra Wirayudha. Ia menyebut IOAA 2026 menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, sementara pembinaan Puspresnas membantu dirinya mempersiapkan diri menghadapi kompetisi di tingkat internasional.

“IOAA menjadi salah satu pengalaman dan memori yang tidak terlupakan bagi saya. Pembinaan yang diberikan Puspresnas juga sangat membantu, khususnya dalam mempersiapkan diri untuk berkompetisi di tingkat internasional,” katanya.

Capaian tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen membangun ekosistem Manajemen Talenta Murid secara berkelanjutan.

Prestasi internasional diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pengembangan kompetensi, karakter, pengalaman dan kontribusi murid bagi masyarakat. (*)

Share to: