BEM Polbeng Gelar Festival Budaya Melayu, Dorong Generasi Muda Lestarikan Tradisi

Kegiatan yang dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bengkalis, Andris Wasono, ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya Melayu, mengembangkan kreativitas, serta memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Penampilan pencak silat saat acara pembukaan Festival Budaya Melayu di lingkungan kampus yang digelar BEM Politeknik Negeri Bengkalis, Jumat (16/10/2026) malam. (Sumber: Prokopim Bengkalis)

RINGKASAN BERITA:

  • Festival Budaya Melayu menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mempromosikan budaya Melayu.
  • Staf Ahli Bupati Bengkalis, Andris Wasono menekankan pentingnya menerapkan nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesantunan, gotong royong, dan adat istiadat.
  • Festival diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menghasilkan gerakan nyata untuk menjaga budaya dan mengembangkan potensi daerah.

RIAUCERDAS, BENGKALIS – Upaya menjaga warisan budaya Melayu membutuhkan keterlibatan generasi muda agar tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam BEM Festival Budaya Melayu Bengkalis yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng), Jumat (16/10/2026).

Festival yang berlangsung di lingkungan Kampus Politeknik Negeri Bengkalis itu dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bupati Bengkalis Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Andris Wasono, yang hadir mewakili Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni.

Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan.Dalam sambutannya, Andris menyampaikan penghargaan kepada mahasiswa yang telah menginisiasi kegiatan untuk mengenalkan sekaligus mempromosikan kearifan lokal masyarakat Melayu.

“Saya sangat bangga dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Melayu. Budaya adalah identitas kita, dan melalui festival ini, generasi muda menunjukkan bahwa budaya tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa budaya Melayu tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari identitas, kebanggaan, dan pedoman nilai masyarakat Bengkalis.

Karena itu, warisan budaya perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap bermakna bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Andris juga mengingatkan bahwa globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan gaya hidup dapat memengaruhi cara berpikir serta perilaku masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga hubungan generasi muda dengan akar budayanya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui acara seremonial atau penggunaan simbol-simbol tradisi.

Nilai Melayu perlu diterapkan dalam keseharian, mulai dari penggunaan bahasa, penghormatan terhadap adat istiadat, kesantunan, semangat gotong royong, hingga pengamalan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga memiliki kebanggaan untuk menjalankan dan mengembangkannya.Dalam kesempatan itu, Andris turut menyoroti peran mahasiswa sebagai kekuatan intelektual dan agen perubahan yang memiliki andil penting dalam pembangunan daerah.

Mahasiswa, menurutnya, perlu mengambil bagian dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong lahirnya inovasi.Ia mengajak generasi muda untuk membangun persatuan dan memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, pelaku seni, dunia usaha, dan masyarakat.

“Melalui festival ini, mari kita lahirkan gerakan nyata pelestarian budaya, kreativitas mahasiswa, promosi potensi daerah, serta kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Keberhasilan tidak diukur dari seberapa meriah acara digelar, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkan dan perubahan yang dihasilkan,” terang Andris.

Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti pada kebanggaan terhadap budaya sendiri, melainkan berani mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkannya.

Kemajuan daerah, lanjutnya, membutuhkan generasi muda yang bersedia terlibat langsung sebagai penggerak perubahan.”Mari kita jaga warisan leluhur, hidupkan inovasi, dan kuatkan kolaborasi, agar budaya Melayu tidak hanya dikenang sebagai kebesaran masa lalu, tetapi terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi masa kini serta masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana menjelaskan bahwa festival tersebut diselenggarakan untuk mempererat silaturahmi antara warga kampus dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan melestarikan peninggalan budaya leluhur.

“Melalui festival ini, kami ingin membuktikan bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, tetapi bisa menjadi inspirasi dan kebanggaan kita semua,” kata dia.

Festival berlangsung lancar hingga selesai. Penyelenggara berharap BEM Festival Budaya Melayu Bengkalis dapat menjadi agenda rutin yang terus memberi ruang bagi kreativitas mahasiswa, memperkuat hubungan kampus dengan masyarakat, serta memperluas pengenalan budaya Melayu, baik di Bengkalis maupun di luar daerah. (*)

Share to: