Pemerintah Perkuat PAUD, Revitalisasi TK Naik Jadi 13.831 pada 2026
Kemendikdasmen memperkuat pendidikan anak usia dini melalui Wajib Belajar 13 Tahun, revitalisasi 13.831 TK, bantuan PIP, dan peningkatan kualifikasi guru.

RINGKASAN BERITA:
- Pemerintah mengalokasikan bantuan revitalisasi untuk 13.831 TK pada 2026, naik dari 1.355 TK pada 2025.
- Sebanyak 888.000 murid TK ditargetkan menerima PIP senilai Rp450.000 per tahun sesuai kriteria.
- Kemendikdasmen mendorong pembelajaran PAUD yang menyenangkan melalui pendekatan bermain sambil belajar dan pengenalan STEAMS.
RIAUCERDAS, SEMARANG – Pemerintah memperluas dukungan pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui peningkatan fasilitas taman kanak-kanak, bantuan pendidikan bagi murid, serta penguatan kualifikasi akademik guru.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul sejak tahap awal pendidikan melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan usia dini merupakan fondasi penting yang memengaruhi keberhasilan anak pada jenjang pendidikan selanjutnya.
“Pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan,” kata dia saat menghadiri perayaan Milad TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ke-107 dan Milad Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) ke-29 di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026).
Penguatan PAUD tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita keempat, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul melalui penguatan pendidikan sejak usia dini.
Melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, pemerintah mendorong anak memperoleh layanan pendidikan prasekolah setidaknya satu tahun sebelum memasuki sekolah dasar (SD).
Abdul Mu’ti menyampaikan, Indonesia memiliki 103.221 satuan TK dengan total 3.808.734 murid. Meski demikian, masih terdapat sekitar 1.372.947 murid kelas 1 SD yang belum pernah mengikuti pendidikan anak usia dini.
Data tersebut menunjukkan pentingnya memperluas akses PAUD agar lebih banyak anak mendapatkan pengalaman belajar sebelum memasuki pendidikan dasar.Untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, Kemendikdasmen mengalokasikan 13.831 bantuan revitalisasi TK pada 2026.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang mencapai 1.355 TK.Pemerintah juga memberikan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 888.000 murid TK pada 2026.
Setiap penerima yang memenuhi kriteria memperoleh bantuan sebesar Rp450.000 per tahun untuk mendukung akses terhadap pendidikan sejak dini.
Berbagai dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan dalam memperoleh layanan pendidikan sekaligus mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di tingkat PAUD.
Selain mendukung kebutuhan murid dan fasilitas sekolah, pemerintah memperkuat kualitas tenaga pendidik melalui program peningkatan kualifikasi akademik guru.
Pada 2025, pemerintah mengalokasikan program peningkatan kualifikasi S1/D4 melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi 12.500 guru yang belum memiliki pendidikan sarjana atau diploma empat.
Pada 2026, alokasi program tersebut direncanakan meningkat menjadi 150.000 guru. Abdul Mu’ti pun mendorong para peserta untuk mengikuti proses pendidikan dengan baik agar kompetensi dan kualifikasi akademik mereka semakin meningkat.
Peningkatan kualitas guru dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan anak memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan, kebutuhan, dan karakteristik usianya.
Anak Belajar Melalui Bermain
Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa pembelajaran PAUD harus berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak. Ia menekankan pentingnya aktivitas bermain sebagai bagian utama dari proses belajar.
“Semua teori pendidikan mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini itu prinsip pedagogisnya adalah bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain,” tutur Mendikdasmen.
Menurutnya, anak usia dini tidak seharusnya dibebani hafalan berlebihan maupun pekerjaan rumah yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan motorik, bersosialisasi, dan berimajinasi.
Kemendikdasmen turut mengenalkan pendekatan STEAMS, yang mencakup Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Sport. Pendekatan ini memperkenalkan sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan olahraga melalui aktivitas yang menyenangkan.
Pengenalan matematika, misalnya, dapat dilakukan melalui lagu dan permainan yang membantu anak mengenal angka, warna, gerakan, serta nilai berbagi.
Dengan cara tersebut, proses belajar diharapkan mendukung perkembangan fisik, intelektual, emosional, sekaligus pembentukan karakter.
Abdul Mu’ti mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan sejak usia dini.
Dukungan pemerintah, peningkatan kompetensi guru, serta pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan anak diharapkan menjadi fondasi dalam mempersiapkan generasi berkarakter dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (*)
