1.711 Peserta Ikuti Kemah Kerukunan dan Ekoteologi Siak Hijau
Sebanyak 1.711 peserta mengikuti Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau di Mempura, Siak, untuk memperkuat toleransi, karakter generasi muda, dan kepedulian lingkungan.

RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 1.711 peserta mengikuti tiga kegiatan yang digelar Kemenag Siak di Bumi Perkemahan Pramuka Tengku Buang Asmara.
- Bupati Siak Afni Z dan Kakanwil Kemenag Riau Muliardi menekankan pentingnya persatuan, pendidikan karakter, dan penghormatan terhadap simbol negara.
- Ekoteologi Siak Hijau mengajak masyarakat menjaga Sungai Siak dan hutan gambut sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
RIAUCERDAS, SIAK – Semangat persaudaraan dalam keberagaman menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau yang diikuti 1.711 peserta di Bumi Perkemahan Pramuka Tengku Buang Asmara, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau.
Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak ini menggabungkan penguatan kerukunan antarumat beragama, pembentukan karakter generasi muda, serta edukasi kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Pembukaan kegiatan pada 24 Oktober 2026 dilakukan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Muliardi bersama Bupati Siak Afni Z dan Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Isyam.
Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan kompang secara bersama-sama.Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak Fuadi Ahmad menyampaikan, jumlah peserta terdiri atas 1.300 peserta Kemah Madrasah, 211 peserta Kemah Kerukunan, serta 200 peserta lainnya.
“Alhamdulillah, kegiatan ini dihadiri kurang lebih 1.711 peserta, terdiri dari 1.300 peserta Kemah Madrasah, 211 peserta Kemah Kerukunan, serta 200 peserta lainnya,” terang Fuadi, Sabtu (24/10/2026).
Bupati Siak Afni Z mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang digagas Kementerian Agama bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Siak.
Menurutnya, perkemahan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat persaudaraan dan menumbuhkan kebersamaan di tengah perbedaan.
“Selagi kita selalu bersama, insyaallah apa pun masalahnya akan bisa diselesaikan dengan baik,” ujar Afni.
Ia juga menilai pembentukan karakter generasi muda perlu dilakukan melalui berbagai pengalaman pendidikan, termasuk kegiatan kepramukaan.
Pendidikan agama di madrasah dan pondok pesantren, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan penanaman disiplin, kemandirian, dan semangat kebersamaan.
Afni turut mengingatkan para peserta agar menghormati simbol-simbol negara, khususnya Bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Jangan pernah bermain-main dengan Bendera Merah Putih, jangan pernah bermain-main dengan lagu Indonesia Raya, dan jangan bermain-main dengan persatuan kita,” tegasnya.
Sementara, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Muliardi mengatakan, Kemah Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Ekoteologi Siak Hijau memiliki keterkaitan dalam membangun masyarakat yang harmonis, berkarakter, serta peduli terhadap lingkungan.
Ia menyebut kerukunan di Siak merupakan nilai yang telah diwariskan sejak masa Kerajaan Siak. Keberagaman suku, agama, dan budaya, menurutnya, harus menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan.
“Dari Siak kita belajar bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk diupayakan bersama. Berbeda agama, satu kemanusiaan,” kata Muliardi.
Selain mempererat hubungan antarpeserta, Kemah Madrasah menjadi sarana pembelajaran di luar kelas melalui aktivitas kepramukaan.
Sementara itu, Ekoteologi Siak Hijau menekankan bahwa kepedulian terhadap alam juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Fuadi Ahmad mengingatkan bahwa menjaga keharmonisan masyarakat dan merawat lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Ia menilai anugerah alam harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah.
“Air yang mengalir, udara yang kita hirup, dan tanah yang kita pijak merupakan anugerah Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” terangnya.
Pesan serupa disampaikan Muliardi yang menyoroti pentingnya menjaga kekayaan alam Kabupaten Siak, terutama Sungai Siak dan kawasan hutan gambut.
“Kabupaten Siak merupakan jantung Provinsi Riau. Sungai Siak dan hutan gambutnya adalah amanah yang harus dijaga oleh kita semua,” ungkapnya.
Melalui kegiatan terpadu ini, Kementerian Agama Kabupaten Siak berharap tumbuh generasi muda yang menjunjung tinggi toleransi, memiliki karakter yang kuat, serta mampu berkontribusi dalam menjaga persatuan dan kelestarian lingkungan. (*)
