Kebakaran Gambut Dekati Lima Sumur Minyak BSP, Bupati Siak Pimpin Penanganan
Kebakaran lahan gambut di sekitar Taman Nasional Zamrud, Siak, sempat mendekati lima sumur minyak milik BUMD PT Bumi Siak Pusako (BSP) hingga berjarak sekitar 50–100 meter. Tim gabungan memperketat pemadaman karena lokasi berada di kawasan habitat Harimau Sumatera dengan medan sulit dan keterbatasan sumber air serta jaringan komunikasi.

- Api sempat berjarak sekitar 50–100 meter dari lima sumur minyak BSP yang menjadi titik utama pengamanan.
- Pemadaman malam hari dilakukan secara terbatas karena lokasi merupakan habitat Harimau Sumatera dan rawan kemunculan satwa liar.
- Penanganan terkendala medan sulit, sumber air terbatas, alat berat yang sulit masuk, serta jaringan komunikasi yang nyaris tidak tersedia.
RIAUCERDAS, SIAK – Lima sumur minyak PT Bumi Siak Pusako (BSP) menjadi titik yang paling dijaga saat kebakaran lahan gambut terjadi di sekitar Taman Nasional Zamrud, Kabupaten Siak.
Kobaran api pada Rabu (26/8/2026) malam sempat mendekati objek vital tersebut dengan jarak hanya sekitar 50 hingga 100 meter.
Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli langsung memimpin penanganan bersama Dandim, Kapolres Siak, jajaran BSP, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta tim pemadam swasta.
Afni berada di lokasi hingga sekitar pukul 02.00 WIB, Kamis (27/8/2026), sedangkan personel TNI bertahan sampai pagi untuk memastikan api tidak kembali mendekati sumur minyak.
Afni menjelaskan terdapat dua lokasi besar yang menjadi perhatian petugas.
Pada satu titik terdapat tiga sumur minyak, sedangkan titik lainnya memiliki dua sumur.
Area tersebut berada di lahan gambut yang dikelilingi perkebunan sawit milik warga.
“Yang paling riskan itu ada lima titik. Sumur minyak ini sangat rentan sekali dengan api. Itu yang kami jaga karena ini obyek vital nasional,” ungkapnya.
Api diketahui pertama kali muncul dari area kebun sawit warga pada siang hari. Kapolres Siak kemudian memimpin pembuatan kanal dan embung sebagai bagian dari upaya menghambat pergerakan api sekaligus menyediakan sumber air untuk pemadaman.
Namun, kondisi berubah pada malam hari ketika api mulai mengelilingi kawasan sumur minyak.
Pemadaman terbatas akhirnya dilakukan meski kawasan tersebut merupakan wilayah jelajah Harimau Sumatera dan memiliki potensi kemunculan satwa liar.
Titik api, terang Bupati, awalnya muncul sejak siang, dari kebun sawit warga.
Kapolres Siak memimpin pembuatan kanal dan embung.
Karena lokasi ini berada pada area jelajah Harimau Sumatera, awalnya tim tak merencanakan bekerja pada malam hari. Namun jam 11 malam api semakin mengelilingi sumur minyak.
“Akhirnya kita putuskan pemadaman terbatas malam tadi. Dibantu TNI dan bahkan dikawal pemadaman pakai senjata buat jaga-jaga karena ini memang lokasi rawan hewan buas seperti Harimau dan Beruang,” ujar Afni.
Penanganan kebakaran menghadapi sejumlah kendala.
Lokasi sulit dijangkau, sumber air terbatas, sementara jaringan komunikasi hampir tidak tersedia di area krusial tersebut.
Afni mengatakan titik kebakaran telah diketahui sekitar dua hari sebelumnya.
Kondisi medan membuat alat berat tidak mudah masuk ke lokasi.
“Sumber air sulit, makanya saya minta bantu Satgas Udara dan langsung turun helikopter water bombing. Sementara alat berat juga sulit masuk karena medannya cukup sulit,” ucapnya.
Alat berat akhirnya digunakan untuk membuat embung. Kolam tersebut mulai terisi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air untuk mendukung pemadaman.
Petugas juga telah memadamkan titik api yang berada dekat pipa minyak BSP.
Sekat dibuat di area tersebut untuk mencegah api kembali merambat menuju fasilitas minyak.Selain persoalan medan, komunikasi di lokasi juga menjadi kendala.
Bupati menyebut personel harus keluar dari kawasan kebakaran untuk mendapatkan jaringan telekomunikasi.
“Kondisinya kesulitan dan nyaris tidak ada sinyal. Ini sangat menyulitkan kami berkoordinasi. Harus keluar lokasi baru ada sinyal,” terang dia.
Afni berharap terdapat solusi untuk memperkuat jaringan komunikasi di kawasan tersebut, terutama karena wilayah itu memiliki risiko bencana sekaligus berada di sekitar objek vital negara.
Kapolres Siak berada di lokasi sejak pagi hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Penanganan kemudian dilanjutkan Dandim bersama pasukannya hingga pagi.
“Terima kasih kolaborasi yang luar biasa,” tutur bupati.
Hingga Kamis pagi, petugas masih melakukan pemantauan untuk memastikan bara api benar-benar terkendali.
Luas lahan yang terbakar belum dapat dipastikan karena masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut.
Di tengah kondisi gambut, asap, serta ancaman satwa liar, petugas tetap memusatkan perhatian pada pencegahan agar api tidak kembali bergerak ke kawasan sumur-sumur minyak BSP. (*)
